Dalam sejarah penerbangan militer, ada pesawat yang dikenang karena kecanggihan teknologinya yang melampaui zaman, seperti Spitfire atau Me-262. Namun, ada pula pesawat yang dikenang bukan karena kecanggihannya, melainkan karena kegigihannya bertahan di tengah gempuran musuh yang jauh lebih modern. Fokker D.XXI adalah anomali tersebut—sebuah jet tempur yang secara visual tampak seperti "anak cinta" antara Gloster Gladiator dan Hawker Hurricane, namun memiliki jiwa yang jauh lebih besar dari penampilannya yang sederhana.

Pesawat Tempur Fokker D.XXI
militerbanget.blogspot.com
Akar Filosofis dan Desain: Kesederhanaan di Tengah Transisi

militerbanget.blogspot.com
Lahir dari papan gambar desainer Erich Schatzki, Fokker D.XXI pertama kali mengudara pada Maret 1936. Menariknya, pada periode yang sama, Inggris meluncurkan purwarupa Spitfire. Namun, sementara dunia mulai beralih ke konstruksi monocoque logam dan roda pendarat yang dapat ditarik (retractable undercarriage), Fokker tetap setia pada filosofi konservatifnya: rangka pipa baja, kulit dari kain, dan sayap dari kayu lapis, lengkap dengan roda pendarat tetap yang dibalut spats ikonik.
(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Lima Pesawat Terbaik Rancangan Biro Desain Tupolev)
Pesawat ini awalnya dirancang untuk memenuhi permintaan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang membutuhkan pesawat tempur murah, tangguh, dan mudah dirawat di pangkalan-pangkalan terpencil di daerah tropis. Dengan mesin radial Bristol Mercury VIII berkekuatan 830 tenaga kuda, D.XXI bukanlah monster dengan kecepatan tinggi. Namun, kesederhanaannya justru menjadi keunggulan di kondisi yang keras.

Pesawat Tempur Fokker D.XXI
militerbanget.blogspot.com
Sosok di Balik Layar: Erich Schatzki dan Anthony Fokker

militerbanget.blogspot.com
Kisah Fokker D.XXI tidak lepas dari intrik politik Eropa masa itu. Erich Schatzki, sang perancang utama, adalah seorang insinyur Yahudi-Jerman yang melarikan diri dari rezim Nazi pada tahun 1934 setelah posisinya di Lufthansa menjadi tidak aman. Ironisnya, ia kemudian bekerja untuk Anthony Fokker, seorang pengusaha Belanda yang reputasinya sempat tercoreng karena menjual senjata ke Jerman selama Perang Dunia I. Kolaborasi antara sang jenius pelarian dan pengusaha oportunis ini melahirkan pesawat yang nantinya justru menjadi simbol perlawanan terhadap tirani yang coba dihindari Schatzki.

Pesawat Tempur Fokker D.XXI
militerbanget.blogspot.com
Pertempuran di Langit Belanda: Perlawanan yang Tak Seimbang

militerbanget.blogspot.com
Ketika Jerman menyerbu Belanda pada 10 Mei 1940, Angkatan Udara Belanda hanya memiliki sekitar 28 unit Fokker D.XXI yang siap tempur. Melawan Luftwaffe yang perkasa, D.XXI secara teknis kalah kelas dari Messerschmitt Bf 109. Namun, kelincahan Fokker dalam membelok secara tajam (turn rate) sering kali mengejutkan pilot-pilot Jerman.
(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Tank T-55: Tank Klasik Soviet, Veteran Konflik Lokal)
Salah satu momen heroik terjadi ketika Letnan Bram van der Stok berhasil menjatuhkan sebuah Bf 109 dengan memanfaatkan kesalahan pilot Jerman yang mencoba melakukan manuver menukik. Meskipun pada akhirnya Belanda terpaksa menyerah setelah pemboman Rotterdam, Fokker D.XXI berhasil mencatatkan rekor yang cukup menakjubkan di tengah keputusasaan: mereka menjatuhkan sekitar 10 unit pesawat Jerman, termasuk beberapa pesawat tempur Bf 109 dan Bf 110, dengan kerugian 20 pesawat dipihak mereka.
![]() |
| Pesawat Tempur Fokker D.XXI militerbanget.blogspot.com |
Di langit Belanda yang dipenuhi asap dan api, Fokker D.XXI menutup perannya dengan sayap berlubang peluru dan bahan bakar yang menipis. Ia tidak kalah karena pengecut, melainkan karena waktu memang tidak berpihak. Tapi cerita pesawat ini belum selesai. Jauh di utara, di negeri yang tanahnya membeku dan napas berubah jadi uap putih, ada perang lain yang menunggu. Di sana, mesiu berbau lebih tajam, mesin meraung melawan dingin, dan setiap lepas landas bisa berarti tidak pernah kembali. Di sanalah Fokker D.XXI akan diuji bukan sekadar sebagai mesin, tapi sebagai teman seperjuangan—dan dari sanalah legenda sesungguhnya mulai ditulis, dan kisah lengkapnya akan dituturkan pada artikel Bagian Kedua.
Artikel ini dialihbahasa, diadaptasi, dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu
Sumber:
World War II Fighter
Beberapa sumber lain


Tidak ada komentar:
Posting Komentar