Bagian 1: Evolusi Artileri di Gurun dan Lahirnya Proyek Sexton
Pendahuluan: Guncangan di Afrika Utara Perang Dunia II di front Afrika Utara bukan sekadar adu kekuatan personel, melainkan laboratorium besar bagi taktik perang modern. Inggris, yang awalnya mengandalkan artileri statis konvensional, harus menerima kenyataan pahit saat berhadapan dengan Deutsches Afrikakorps (DAK). Di bawah komando Field Marshal Erwin Rommel, Jerman mendemonstrasikan betapa mematikannya integrasi antara tank Panzer dan artileri swagerak (Self-Propelled Gun/SPG).
Senjata seperti Sturmgeschütz III (StuG III) dan meriam Flak 88mm yang dipasang pada kendaraan menjadi momok bagi pasukan lapis baja Inggris. Kemampuan mereka untuk menembak, bergerak, dan berpindah posisi dengan cepat membuat artileri tarik milik Inggris tampak kuno dan rentan. Inggris menyadari satu hal: mereka butuh meriam yang memiliki penggerak mandiri untuk dapat bertahan dalam perang manuver yang cepat.
Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Tank Tempur Utama / Main Battle Tank - TR-85M1-Bizonul)

Artileri Swagerak - Sexton
militerbanget.blogspot.com
Dilema Bishop dan Masalah Logistik Amunisi dari Amerika

militerbanget.blogspot.com
Upaya pertama Inggris untuk mengejar ketertinggalan ini menghasilkan Bishop. Kendaraan ini adalah eksperimen darurat dengan memasang meriam legendaris QF 25-pounder ke atas sasis tank Valentine. Namun, Bishop memiliki banyak kelemahan: siluetnya terlalu tinggi sehingga mudah terlihat musuh, dan ruang gerak meriamnya sangat terbatas (elevasi rendah), yang justru membatasi jarak tembaknya sendiri.
Harapan sempat muncul saat Amerika Serikat menawarkan M7 Priest. Secara mekanis, Priest sangat mumpuni, namun artileri swagerak ini menggunakan meriam kaliber 105mm standar Amerika. Untuk logistik militer Inggris, tentunya ini jadi mimpi buruk. Mereka harus menyuplai dua jenis amunisi yang berbeda untuk unit artileri mereka di garis depan. Inggris bersikeras bahwa mereka membutuhkan kendaraan dengan performa M7 Priest, namun harus dipersenjatai dengan meriam 25-pounder milik mereka sendiri.
![]() |
| Artileri Swagerak - Sexton militerbanget.blogspot.com |
Peran Kanada: Solusi dari Montreal Setelah purwarupa Amerika (T51) gagal memenuhi ekspektasi dan mengalami berbagai kendala teknis, Inggris mengalihkan pandangannya ke Kanada. Pilihan ini sangat logis: Kanada sudah memproduksi tank Ram, yang dikembangkan dari sasis M3 Lee Amerika (sasis yang sama dengan M7 Priest).
Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Tank Tempur Utama / Main Battle Tank - Karrar (Striker))
![]() |
| Artileri Swagerak - Sexton militerbanget.blogspot.com |
Tugas berat ini jatuh ke tangan Montreal Locomotive Works. Mereka diminta merancang kendaraan yang menggabungkan keandalan sasis tank Kanada dengan daya hantam meriam Inggris. Pada 23 Juni 1942, lahirlah purwarupa pertama. Desainnya terbukti superior dibandingkan Bishop. Setelah melalui serangkaian uji coba di Inggris pada awal 1943, kendaraan ini resmi diberi nama Sexton. Nama ini melanjutkan tradisi Inggris memberikan nama bertema “religious” untuk artileri swagerak mereka (setelah Bishop dan Priest). Dengan pesanan awal sebanyak 125 unit, Sexton siap mengubah peta kekuatan artileri Sekutu.
Simak spesifikasi teknis dan aksi Sexton di Normandia pada Bagian 2 di sini



Tidak ada komentar:
Posting Komentar