Setelah pada bagian pertama kita membedah anatomi "skuter terbang" ini dan bagaimana teknologi sederhananya justru menjadi kekuatan utama, kini saatnya kita melihat bagaimana Shahed-136 beroperasi di medan laga. Bagaimana senjata semurah ini bisa membuat sistem pertahanan udara kelas dunia seperti Iron Dome atau Patriot tampak kewalahan? Jawabannya ada pada strategi jumlah dan manajemen risiko.

Drone Shahed-136
militerbanget.blogspot.com
Taktik Serangan Massal: Menang karena Koordinasi dan Jumlah

militerbanget.blogspot.com
Shahed-136 jarang beroperasi seperti "serigala tunggal." Kekuatan utamanya terletak pada taktik swarm atau gerombolan. Alutsista ini diluncurkan dari rak truk yang bisa menampung beberapa unit sekaligus dalam sudut kemiringan tertentu. Begitu roket pendorong (booster) membawanya ke udara, mesin dua taknya mengambil alih dan booster pun dilepaskan untuk meringankan beban.
(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Pesawat Tempur / Fighter Aircraft JET MiG-21 (Fishbed) Bagian 2)
Dalam satu serangan, puluhan drone bisa diluncurkan secara bersamaan. Mereka terbang rendah, hampir mencium permukaan tanah untuk menghindari deteksi radar jarak jauh. Drone-drone ini saling berkoordinasi: tidak semuanya menghantam target yang sama. Mereka bisa membagi tugas untuk membuat sistem radar lawan kewalahan. Saat sistem pertahanan udara sibuk menembaki sepuluh drone pertama, sepuluh drone berikutnya mungkin sudah menyelinap masuk melalui celah pertahanan yang sedang melakukan pengisian ulang amunisi.

Drone Shahed-136
militerbanget.blogspot.com
Dilema Tiga Lapis Pertahanan

militerbanget.blogspot.com
Secara teori, setiap negara maju memiliki tiga lapis pertahanan udara. Lapis pertama adalah rudal jarak pendek seperti Iron Dome (Israel) atau Akash (India). Lapis kedua untuk ancaman medium seperti rudal jelajah, dan lapis ketiga untuk rudal balistik jarak jauh seperti sistem S-400 atau Arrow-3. Masalahnya, Shahed-136 memaksa lapis pertama bekerja terlalu keras.
![]() |
| Drone Shahed-136 militerbanget.blogspot.com |
Mari kita hitung biayanya. Satu unit pencegat Tamir milik Iron Dome harganya dua hingga tiga kali lipat harga drone Shahed. Jika menggunakan rudal Patriot PAC-2 milik Amerika, harganya melonjak menjadi 2 hingga 3 juta dolar—alias ratusan kali lipat lebih mahal dari target yang dihancurkannya. Menggunakan jet tempur untuk mencegatnya? Itu adalah metode yang paling tidak efisien karena biaya operasional per jam terbang jet tempur sangatlah tinggi. Solusi paling masuk akal adalah kanon anti-pesawat (AAA) dengan radar internal, namun jangkauannya sangat terbatas, hanya sekitar 5 kilometer.

Drone Shahed-136
militerbanget.blogspot.com
Kesimpulan: Krisis Identitas Pertahanan Modern

militerbanget.blogspot.com
Shahed-136 telah memicu krisis identitas dalam doktrin pertahanan modern. Alustsita ini membuktikan bahwa di era sekarang, "mahal" tidak selalu berarti "aman." Musuh tidak perlu menghancurkan sistem Patriot dengan ledakan; mereka cukup membuat pihak lawan menghabiskan seluruh stok rudal Patriot yang dimiliki untuk menembaki drone murah, sampai akhirnya lawan tidak punya apa-apa lagi untuk menangkis rudal yang sebenarnya.
(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Pesawat Tempur / Fighter Aircraft JET MiG-21 (Fishbed) Bagian 3)
Keberhasilan amunisi yang berkeliaran ini memaksa dunia militer untuk kembali melirik sistem pertahanan berbasis peluru (kanon) dan teknologi laser yang memiliki biaya per tembakan jauh lebih rendah. Shahed-136 bukan sekadar senjata; alutsista ini adalah pengingat yang kejam bagi para petinggi militer bahwa dalam perang, ekonomi adalah panglima. Barangsiapa yang tidak mampu mengelola biaya pertahanannya dengan efisien, akan hancur bukan karena kalah teknologi, melainkan karena bangkrut di tengah jalan. Sebuah pelajaran yang sangat berharga yang harus segera diserap oleh siapa pun yang ingin menjaga kedaulatan langitnya.

Drone Shahed-136
militerbanget.blogspot.com
Spesifikasi Drone Shahed 136

militerbanget.blogspot.com
- Jenis: Drone serang satu arah
- Asal negara: Iran
Operator:
- Iran
- Rusia (sebagai Geran-2)
Catatan operasional (Perang)
- Perang Rusia-Ukraina
- Serangan September–Oktober 2022 di Kurdistan Irak
- Serangan Iran di Israel pada April 2024
- Perang Iran 2026
Catatan produksi
- Perancang: Industri Penerbangan Shahed
- Pabrikan: Shahed Aviation Industries (Iran), Rusia
- Biaya per unit: $193.000 (ekspor; berbagai perkiraan biaya produksi domestik berkisar antara $10.000 hingga $50.000)
- Jumlah produksi: Belum diketahui, menurut satu sumber lebih dari 10.000 unit

Drone Shahed-136
militerbanget.blogspot.com
Spesifikasi dan performa

militerbanget.blogspot.com
- Bobot operasional: 200 kg (440 lb)
- Panjang: 3,5 m (11 kaki)
- Lebar sayap: 2,5 m (8,2 kaki)
- Berat hulu ledak: 50 kilogram atau 90 kilogram (200 lb)
- Dapur pacu: Mesin piston MD-550
- Jangkauan operasional: 2.500 km (1.600 mil)
- Kecepatan maksimum: Sekitar 185 km/jam (115 mph)
- Sistem panuntun (Pemandu): GNSS, INS, Kemungkinan ada fitur pendeteksi target
- Platform peluncuran: Lepas landas dengan bantuan roket
Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu
Sumber:
1. Modern Weapon Drone
2. Wikipedia
3. Beberapa sumber lain


Tidak ada komentar:
Posting Komentar