Jumat, 26 Juni 2026

Palu Gada di Langit Afghanistan: Mengapa Sukhoi Su-17 Menjadi Senjata Pemukul Terakhir yang Menolak Punah


Pesawat Sukhoi Su-17, Senjata Pemukul Terakhir yang Menolak Punah
Pesawat Tempur/Pembom
Bomber/Fighter Sukhoi Su-17 Fitter
militerbanget.blogspot.com

Beraban, Tabanan, Bali, Jum'at, 26 Juni 2026

Seperti yang telah dibahas pada artikel bagian pertama, kekuatan utama Sukhoi Su-17 "Fitter" bukan terletak pada keanggunan desainnya, melainkan pada ketangguhan mekanis dan kepraktisan sayap ayun eksternalnya yang revolusioner. Berkat mesin Lyulka AL-21F3 dan rangka baja-titanium yang kokoh, jet tempur ini berhasil mengatasi kutukan landasan pacu pendek tanpa mengorbankan kecepatan Mach 2. Namun, ketika dinamika Perang Dingin bergeser dari perang proksi di Eropa menjadi perang gerilya asimetris di dataran tinggi Asia Tengah, seluruh sistem persenjataan dan batasan aerodinamis Su-17 dipaksa bekerja melampaui batas desain awalnya.

Pesawat Sukhoi Su-17, Senjata Pemukul Terakhir yang Menolak Punah
Pesawat Tempur/Pembom
Bomber/Fighter Sukhoi Su-17 Fitter
militerbanget.blogspot.com

Neraka Afghanistan: Pembuktian di Medan Asimetris


Perang Soviet-Afghanistan menjadi kawah candradimuka yang menempa reputasi operasional Su-17. Ditugaskan secara masif dari pangkalan udara domestik maupun pangkalan garis depan seperti Bagram dan Shindand, Su-17 menjadi kuda beban utama bagi misi dukungan udara taktis (tactical air support). Jet ini terbang dalam ribuan sorti, menjatuhkan ribuan ton bom dan meluncurkan roket tanpa kendali ke posisi-posisi pertahanan Mujahidin yang bersembunyi di lembah-lembah sempit serta celah gunung Hindu Kush.

(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Jawara Perang Teluk 1 - Tank Tempur Utama / Main Battle Tank - Challenger 1)

Di medan ekstrem ini, para pilot segera menyadari bahwa sistem navigasi canggih PRNK-54 yang awalnya didesain untuk memetakan dataran rata Jerman Barat menjadi tidak berguna. Anomali magnetik bumi dan kontur pegunungan yang acak membuat komputer navigasi sering mengalami disorientasi. Akibatnya, gaya navigasi kembali ke era klasik: mengandalkan penglihatan visual mata telanjang, penanda alam, dan arloji mekanis.

Pesawat Sukhoi Su-17, Senjata Pemukul Terakhir yang Menolak Punah
Pesawat Tempur/Pembom
Bomber/Fighter Sukhoi Su-17 Fitter
militerbanget.blogspot.com

Kondisi udara panas dan ketinggian tinggi pegunungan Afghanistan juga menguras daya dorong mesin, memperpanjang jarak lepas landas, dan memangkas kapasitas muatan senjata. Di sinilah teknologi sayap geometri variabel menunjukkan taringnya. Dengan merentangkan sayap secara maksimal pada sudut 30 derajat, Su-17 mampu mendapatkan gaya angkat tambahan yang memungkinkannya beroperasi dari pangkalan udara berdebu di dataran tinggi—sesuatu yang mustahil dilakukan oleh jet tempur bersayap statis konvensional.

Namun, Afghanistan juga menelanjangi kerentanan terbesar Su-17: kemunculan sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) seperti rudal Stinger yang disuplai oleh CIA. Nosel mesin AL-21F yang besar memancarkan radiasi panas yang luar biasa, menjadikannya suar pemikat bagi pemandu inframerah rudal musuh. Karena Su-17 hanya menggunakan mesin tunggal, setiap hantaman pada sektor mesin hampir selalu berakhir dengan kerusakan yang mematikan. Berbeda dengan jet bermesin ganda seperti Su-25 Frogfoot yang mampu pulang ke pangkalan dengan satu mesin hancur dan separuh ekor robek, pilot Su-17 yang mesinnya terkena rudal hanya memiliki satu pilihan logis: menarik tuas kursi lontar.

Pesawat Sukhoi Su-17, Senjata Pemukul Terakhir yang Menolak Punah
Pesawat Tempur/Pembom
Bomber/Fighter Sukhoi Su-17 Fitter
militerbanget.blogspot.com

Merespons tingkat kehilangan pesawat yang merangkak naik, para insinyur Soviet bertindak cepat dengan mentalitas khas mereka. Mereka memasang dispenser pengecoh (flare) ASO-2V yang awalnya diikat secara darurat pada badan pesawat, sebelum akhirnya diintegrasikan ke dalam fairing aerodinamis raksasa di sepanjang punuk punggung pesawat, memberikan tampilan seperti sisir raksasa. Taktik pilot pun berubah drastis; mereka mendekati target dari elevasi tinggi, melakukan manuver menukik sangat curam untuk melepaskan bom, lalu melakukan pull-up ekstrem sembari memuntahkan ratusan pita flare demi mengelabui rudal pencari panas.

Pesawat Sukhoi Su-17, Senjata Pemukul Terakhir yang Menolak Punah
Pesawat Tempur/Pembom
Bomber/Fighter Sukhoi Su-17 Fitter
militerbanget.blogspot.com

Evolusi Elektronik dan Arsenal Penghancur Bungker


Meskipun penampilannya luar biasa kasar, sistem avionik Su-17 terus berevolusi secara radikal sepanjang masa produksinya. Varian definitif seperti Su-17M3 dan Su-17M4 berubah menjadi pesawat serang yang canggih. Punuk punggung pesawat diperbesar demi menyediakan ruang bagi tangki bahan bakar tambahan dan perangkat peperangan elektronik.

Pada bagian hidung, jet ini dilengkapi dengan pencari jarak laser dan penanda sasaran Klyon-PS. Berbeda dengan pod penargetan milik Barat yang dapat berputar bebas ke segala arah untuk melacak target, Klyon-PS memiliki sudut pandang yang sangat terbatas dan kaku menghadap ke depan. Konsekuensinya, pilot harus mengarahkan seluruh moncong pesawat seberat 15 ton tersebut langsung ke arah target untuk mendapatkan penguncian laser bagi rudal kendali. Ini menuntut keahlian terbang tingkat tinggi; sang pilot harus mengendalikan jet supersonik dalam kecepatan tinggi, menukik menembus barikade tembakan antipesawat, sekaligus bertindak sebagai perwira sistem senjata yang menatap layar bidik.

(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Senapan Serbu / Assault Rifle - IMBEL IA2)

Pesawat Sukhoi Su-17, Senjata Pemukul Terakhir yang Menolak Punah
Pesawat Tempur/Pembom
Bomber/Fighter Sukhoi Su-17 Fitter
militerbanget.blogspot.com

Persenjataan yang dibawa oleh Su-17 pun sangat mematikan. Untuk misi presisi, jet ini mampu mengusung rudal udara-ke-permukaan dari keluarga Kh-25 dan Kh-29. Rudal Kh-29, yang ukurannya lebih menyerupai pesawat layang kecil ketimbang rudal konvensional, membawa hulu ledak seberat 317 kg yang mampu menembus bungker beton bertulang yang paling tebal sekalipun. Untuk misi penumpasan pertahanan udara musuh (SEAD), Su-17 dipersenjatai dengan rudal anti-radiasi Kh-58 yang berburu emisi radar musuh.

Salah satu senjata paling unik yang sering dibawa adalah pod senapan SPU-22. Pod yang digantung di bawah sayap ini menampung meriam ganda kaliber 23 mm. Yang membuatnya luar biasa adalah laras meriam tersebut dapat diturunkan secara elektronik ke bawah hingga beberapa derajat. Fitur ini memungkinkan pilot Su-17 melakukan rentetan tembakan berondongan (strafing) ke target darat sembari pesawat tetap terbang mendatar secara stabil, atau memperpanjang durasi tembakan saat pesawat sedang menukik.

Pesawat Sukhoi Su-17, Senjata Pemukul Terakhir yang Menolak Punah
Pesawat Tempur/Pembom
Bomber/Fighter Sukhoi Su-17 Fitter
militerbanget.blogspot.com

Perbandingan Doktrin: Sukhoi Su-17 vs MiG-27 dan Sepecat Jaguar


Jika dibandingkan dengan kompetitor sebangsanya, MiG-27 Flogger-D, Su-17 menawarkan studi kasus yang menarik tentang prioritas pengadaan militer Soviet. Di atas kertas, MiG-27 adalah pesawat yang jauh lebih modern. MiG-27 memiliki desain hidung rata (duck-nose) yang memberikan visibilitas ke bawah jauh lebih superior bagi pilot dan dilengkapi sistem avionik serangan yang sangat terspesialisasi. Namun, MiG-27 ditenagai oleh mesin Tumansky R-29 yang rumit dan rentan mengalami gangguan dalam kondisi lapangan yang berdebu. Kompleksitas MiG-27 menjadikannya mimpi buruk bagi tim mekanik di garis depan. Sebaliknya, Su-17 menawarkan keandalan layaknya traktor pertanian. Hasil akhirnya berbicara nyata: MiG-27 langsung dipensiunkan tidak lama setelah Perang Dingin berakhir, sementara Su-17 terus melangkah maju melintasi dekade baru. Ketangguhan sederhana yang memungkinkannya bertahan dari badai debu Suriah serta kelembapan ekstrem Peru terbukti menjadi kualitas tak terkalahkan yang melampaui kecanggihan di atas kertas.

Dibandingkan dengan pesawat serang tempur, SEPECAT Jaguar, Su-17 juga menunjukkan perbedaan doktrin yang mencolok. Jaguar jauh lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar dan memiliki kontrol kecepatan rendah yang lebih halus berkat konfigurasi sayap slat-flap statis yang efisien. Namun, Su-17 jauh lebih cepat, mampu melakukan akselerasi supersonik hingga Mach 2 yang hanya bisa diimpikan oleh pilot Jaguar. Doktrin Soviet sangat menghargai kecepatan tinggi ini untuk peran serangan nuklir pertama: masuk ke area target secepat kilat, jatuhkan bom, dan kabur sebelum gelombang kejut ledakan nuklir atau jet pencegat musuh menangkap mereka.

Pesawat Sukhoi Su-17, Senjata Pemukul Terakhir yang Menolak Punah
Pesawat Tempur/Pembom
Bomber/Fighter Sukhoi Su-17 Fitter
militerbanget.blogspot.com

Penutup: Warisan Sang Monster Industrial


Keberhasilan ekspor keluarga Su-17 (di bawah varian ekspor Su-20 dan Su-22) menjadikannya sebagai senapan serbu "AK-47 dalam dunia jet serang". Pesawat ini dijual ke hampir seluruh negara sekutu Soviet, mulai dari gurun Libya, hutan lebat Vietnam, dataran tinggi Andes di Peru, hingga dataran subur Polandia. Hampir 3.000 unit diproduksi di pabrik-pabrik Soviet. Ketika negara-negara Barat menderita karena biaya pengembangan jet tempur generasi baru yang selangit, Uni Soviet mengatasi masalah tersebut melalui kuantitas masif yang memiliki kualitasnya tersendiri.

Su-17 tidak mengubah arah sejarah melalui satu pertempuran tunggal yang ikonik. Ia tidak memiliki kegemerlapan seperti F-14 Tomcat dalam film Hollywood atau reputasi menakutkan dari MiG-25 Foxbat. Warisannya adalah tentang keberadaan (presence) dan daya tahan yang luar biasa. Ia membuktikan bahwa konsep sayap geometri variabel yang selalu dituduh rumit dan tinggi biaya perawatan dapat diubah menjadi platform yang sangat andal, bahkan ketika dioperasikan oleh pasukan wajib militer dengan pelatihan minimal.

Ia adalah perwujudan dari pragmatisme teknik tingkat tertinggi. Jet ini membiarkan fungsi mendikte bentuk sepenuhnya, melahirkan estetika brutal yang menolak dilupakan oleh lembaran sejarah militer dunia. Bahkan ketika Uni Soviet runtuh dan peta geopolitik berubah total, kepakan sayap ayun sang "Palu Gada Terbang" ini tetap setia menderu di angkasa, melintasi batas abad melalui kekuatan hidrolik murni dan ketahanan mekanis yang tak tergoyahkan.

Pesawat Sukhoi Su-17, Senjata Pemukul Terakhir yang Menolak Punah
Pesawat Tempur/Pembom
Bomber/Fighter Sukhoi Su-17 Fitter
militerbanget.blogspot.com

Spesifikasi Pesawat Pembom Tempur Sukhoi Su-17M4


  • Asal negara: Uni Soviet
  • Pabrikan: Sukhoi
  • Status operasional: Dalam layanan terbatas

Pengguna utama  dan produksi

  • Angkatan Udara Soviet (historis)
  • Angkatan Udara Suriah (historis)
  • Angkatan Udara Polandia (historis)
  • Angkatan Udara Rakyat Vietnam
  • Korps Garda Revolusi Islam
  • Jumlah produksi: 2.867 unit

Sejarah

  • Diproduksi: Tahun 1969–1990
  • Terbang perdana: 2 Agustus 1966
  • Dikembangkan dari: Sukhoi Su-7

Karakteristik umum

  • Awak: 1 orang
  • Panjang: 19,02 m (62 kaki 5 inci)

Rentang sayap dan tinggi pesawat: 

  • Sayap terentang: 13,68 m (44 kaki 11 inci)
  • Sayap tersapu: 10,02 m (33 kaki).
  • Tinggi: 5,12 m (16 kaki 10 inci)

Luas sayap

  • Sayap terentang: 38,5 m² ( 414 kaki persegi)
  • Sayap menyapu: 34,5 m² ( 371 kaki persegi).
  • Airfoil: akar: TsAGI SR-3S (5,9%); tip: TsAGI SR-3S (4,7%)

Spesifikasi lain

  • Berat kosong: 12.160 kg (26.808 lb)
  • Berat kotor: 16.400 kg (36.156 lb)
  • Berat lepas landas maksimum: 19.430 kg (42.836 lb)
  • Kapasitas bahan bakar: 3.770 kg (8.311 lb)
  • Dapur pacu: 1 × mesin turbojet afterburner Lyulka AL-21F-3, daya dorong normal 76,4 kN (17.200 lbf), 109,8 kN (24.700 lbf) dengan afterburner

Performa


Kecepatan maksimum dan performa lain: 
  • 1.400 km/jam (870 mph, 760 knot) / M1.13 di permukaan laut
  • 1.860 km/jam (1.160 mph; 1.000 knot) di elevasi tinggi

  • Jangkauan tempur: 1.150 km (710 mil, 620 mil laut) serangan hi-lo-hi dengan muatan tempur 2.000 kg (4.409 lb)
  • Jangkauan feri: 2.300 km (1.400 mil, 1.200 nmi)
  • Elevasi terbang maksimum: 14.200 m (46.600 kaki)
  • Batas g: + 7
  • Kecepatan mendaki: 230 m/s (45.000 kaki/menit)
  • Beban sayap: 443 kg/m² (91 lb/sq ft)
  • Rasio dorong/berat : 0,68

Persenjataan

Tetap
  • Senjata: 2 × meriam otomatis Nudelman-Rikhter NR-30 30 mm (80 peluru per senjata, total 160 peluru)
  • Pod senjata UPK-23 atau SPPU-22 untuk autocannon 2 × Gryazev-Shipunov GSh-23 L
  • Pylon/Hardpoint: 10 titik pengait dengan kapasitas hingga 4.000 kg (8.800 lb) muatan, dengan ketentuan untuk membawa kombinasi:
Rudal, bom dan roket
  • Rudal udara-ke-udara: K-13, R-60, R-73
  • Rudal udara-ke-permukaan: Kh-23 Grom, Kh-25 ML, Kh-29 L/T/D
  • Rudal anti-radiasi: Kh-58, Kh-27 PS, Kh-28
  • Bom: bom jatuh bebas, bom berpemandu laser, bom elektro-optik, bom napalm, bom parasut penarik, dan bom tandan.
  • Roket: S-5, S-8 & S-13

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

Sumber: 
1. World Modern Warplane
2. Wikipedia 
3. Beberapa sumber lain

Kamis, 25 Juni 2026

Kedigdayaan Sukhoi Su-17: Bagaimana Kebrutalan Rancang Bangun Soviet Mengalahkan Superioritas Pesawat Sayap Ayun Barat


Pesawat Tempur Sukhoi Su-17 Sang Penguasa Udara
Pesawat Tempur/Fighter Aircraft
Sukhoi Su-17 'Fitter'
militerbanget.blogspot.com

Beraban, Tabanan, Bali, Kamis, 25 Juni 2026

Filosofi Palu Gada dalam Desain Dirgantara Soviet


Dunia aviasi militer Barat sering kali terjebak dalam romantisme teknologi tinggi. Mereka mendesain jet tempur layaknya arloji Swiss: akurat, rumit, dan menuntut lingkungan yang steril agar dapat berfungsi optimal. Namun, Uni Soviet memiliki pendekatan yang sama sekali berbeda. Di bawah doktrin Kremlin, senjata adalah alat kerja buruh tani dan tentara wajib militer. Senjata harus bandel, tangguh, dan mampu dioperasikan dengan cara yang kasar di tengah medan yang ekstrem. Ketika dunia Barat menyempurnakan sayap geometri variabel (sayap ayun) melalui perhitungan komputer super rumit pada F-111 Aardvark atau F-14 Tomcat, Uni Soviet menciptakan Sukhoi Su-17 "Fitter"—sebuah monster dengan standar industri massal yang membuktikan bahwa pendekatan yang sederhana namun brutal sering kali jauh lebih mematikan daripada kecanggihan yang manja.

Pesawat Tempur Sukhoi Su-17 Sang Penguasa Udara
Pesawat Tempur/Fighter Aircraft
Sukhoi Su-17 'Fitter'
militerbanget.blogspot.com

Melawan Kutukan Landasan Pacu: Silsilah Berdarah dari Su-7


Untuk memahami mengapa Su-17 lahir, kita harus melihat kegagalan fatal dari pendahulunya, Sukhoi Su-7. Di udara, Su-7 adalah jet penyergap supersonik yang mengerikan. Pesawat ini mampu melesat hingga Mach 2 dan dirancang khusus untuk menyusup ke wilayah NATO untuk menjatuhkan bom nuklir taktis. Namun, kehebatan di langit itu harus dibayar mahal dengan petaka di darat.


Pesawat Tempur Sukhoi Su-7 Sang Penguasa Udara
Pesawat Tempur/Fighter Aircraft
Sukhoi Su-7 'Fitter-A'
militerbanget.blogspot.com

Su-7 menggunakan sayap statis dengan sudut sapuan sangat tajam. Desain ini sangat optimal untuk kecepatan tinggi, namun gaya angkatnya nyaris mendekati nol pada kecepatan rendah. Akibatnya, Su-7 membutuhkan kecepatan lepas landas dan mendarat yang tak masuk akal—menyentuh angka 300 km/jam. Pesawat ini membutuhkan landasan pacu beton mulus yang membentang berkilo-kilometer jauhnya hanya untuk bisa mengudara secara aman.

Dalam skenario Perang Dingin, karakteristik ini adalah vonis mati. Doktrin Uni Soviet menyadari bahwa pada hari pertama perang pecah, pangkalan-pangkalan udara utama akan menjadi sasaran pertama yang diuapkan oleh serangan nuklir musuh. Jika sebuah jet tempur tidak bisa beroperasi dari landasan tanah yang rusak, lapangan rumput, atau jalan raya darurat, maka jet tersebut tidak lebih dari sekadar rongsokan alutsista yang mahal. Angkatan Udara Soviet (VVS) menjerit menuntut solusi: mereka membutuhkan jet serang yang mempertahankan performa penetrasi Mach 2, tetapi bisa lepas landas bahkan dari landasan yang sama sekali tidak layak.

Pesawat Tempur Sukhoi Su-17 Sang Penguasa Udara
Pesawat Tempur/Fighter Aircraft
Sukhoi Su-17 'Fitter'
militerbanget.blogspot.com

Kejeniusan Logistik: Setengah Sayap, Setengah Biaya


Solusi tren kedirgantaraan saat itu adalah teknologi sayap geometri variabel (variable-geometry wing). Dengan mengayunkan sayap ke depan saat lepas landas, aspek rasio meningkat dan gaya angkat melonjak drastis, memperpendek jarak landasan. Saat berada di udara, sayap ditarik ke belakang untuk bisa menembus kecepatan suara.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara Biro Desain (OKB) Sukhoi di bawah pimpinan Pavel Sukhoi dengan para insinyur General Dynamics di Amerika Serikat. Amerika mendesain F-111 dengan poros ayun tepat di pangkal badan pesawat (fuselage). Ini adalah keputusan yang memaksa mereka merancang ulang total struktur internal pesawat, memperkuat rangka dengan rekayasa logam yang mahal, dan memindahkan seluruh sistem roda pendaratan. Hasilnya? Sebuah mahakarya teknologi yang harganya melambung tak terkendali dan menjadi mimpi buruk perawatan.

Pesawat Tempur Sukhoi Su-17 Sang Penguasa Udara
Pesawat Tempur/Fighter Aircraft
Sukhoi Su-17 'Fitter'
militerbanget.blogspot.com

Pavel Sukhoi memilih jalur pintas yang hampir terlihat seperti penghinaan bagi estetika modern. Sukhoi melihat bahwa roda pendaratan utama Su-7 yang melipat ke dalam sayap adalah sistem yang sudah teruji dan sangat kokoh. Jika mereka memindahkan poros ayun ke badan pesawat, mereka harus mendesain ulang roda pendaratan dari nol.

Maka, Sukhoi mengambil keputusan radikal: mereka menempatkan poros ayun sayap tepat di pertengahan bentang sayap (mid-span), persis di luar rumah roda pendaratan.

Keputusan ini berarti hanya bagian luar sayap (outer panels) yang bergerak, sementara setengah bagian dalam sayap tetap statis. Pengamat militer Barat awalnya mencemooh rancangan ini sebagai "setengah langkah" yang malas. Namun, secara logistik, ini adalah pukulan telak yang jenius. Rangka utama, mesin, roda pendaratan, dan cantelan senjata (pylon) dari lini produksi Su-7 yang sudah ada tidak perlu diubah. Uni Soviet berhasil menciptakan jet tempur sayap ayun operasional pertamanya, purwarupa S-22i, dengan waktu pengembangan yang sangat singkat dan biaya pengembangan yang sangat minim. Hasil uji coba membuktikan performanya: jarak lepas landas terpangkas hampir setengahnya, dan kecepatan mendarat bisa ditekan serendah mungkin. Monster tersebut berhasil dijinakkan tanpa perlu menguras kas negara.

Pesawat Tempur Sukhoi Su-17 Sang Penguasa Udara
Pesawat Tempur/Fighter Aircraft
Sukhoi Su-17 'Fitter'
militerbanget.blogspot.com

Rangka Titanium dan Jantung Pacu Lyulka AL-21F


Secara struktural, Su-17 dibentuk layaknya tank terbang. Badannya menggunakan struktur semi-monokok yang didominasi oleh paduan duralumin. Namun, pada titik-titik stres tinggi serta area yang terpapar panas ekstrem di sekitar mesin, Sukhoi memasangkan baja berkekuatan tinggi dan titanium. Bagian belakang jet ini pada dasarnya adalah sebuah tameng panas masif yang dirancang untuk menahan hantaman termal tanpa henti.

Pada bagian hidung, terdapat lubang asupan udara berbentuk silinder (nose intake) yang dilengkapi dengan kerucut pembendung gelombang kejut (shock cone). Kerucut ini bergerak maju mundur secara otomatis berdasarkan kecepatan pesawat untuk mengatur pasokan udara ke kompresor mesin—sebuah fitur krusial yang memastikan kestabilan aliran udara saat jet dipacu melebihi kecepatan 2.000 km/jam.

Pesawat Tempur Sukhoi Su-17 Sang Penguasa Udara
Pesawat Tempur/Fighter Aircraft
Sukhoi Su-17 'Fitter'
militerbanget.blogspot.com

Namun, daya pikat sejati dari kekuatan industrial Su-17 terletak pada mesinnya: Lyulka AL-21F3. Mesin ini diakui sebagai salah satu mesin turbojet poros tunggal terbaik yang pernah diciptakan oleh Uni Soviet. Dilengkapi dengan kompresor aksial 14-tahap, AL-21F3 menghasilkan rasio kompresi yang sangat tinggi.

Saat afterburner dinyalakan, mesin tunggal ini menyemburkan gaya dorong masif sebesar 110 kilonewton. Sebagai komparasi, kekuatan ini setara dengan daya dorong total yang dihasilkan oleh dua mesin jet F-4 Phantom milik Amerika Serikat, namun di sini seluruh tenaga tersebut dijejalkan ke dalam satu rangka pesawat yang lebih ringkas. Dengan daya dorong yang beringas ini memungkinkan Su-17 mengusung beban bom yang luar biasa berat dan melesat lepas landas dengan elegan, bahkan dalam kondisi udara tipis dan panas ekstrem di wilayah Asia Tengah.

(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Jawara Perang Teluk 1 - Tank Tempur Utama / Main Battle Tank - Challenger 1)

Lebih dari itu, keandalan mesin Lyulka sudah menjadi legenda. Mesin ini mampu menelan debu, pasir, dan kerikil kasar yang jika masuk ke dalam mesin jet Barat akan langsung menghancurkan bilah kompresornya. Mesin AL-21F3 akan tetap menyala dan menderu, memproses kotoran tersebut, meski harus dibayar dengan usia pakai kompresor yang menjadi singkat. Ini adalah harga yang dengan senang hati dibayar oleh para komandan Soviet demi keandalan di garis depan pertempuran.

Pesawat Tempur Sukhoi Su-17 Sang Penguasa Udara
Pesawat Tempur/Fighter Aircraft
Sukhoi Su-17 'Fitter'
militerbanget.blogspot.com

Bukan Sekadar Pesawat, Tapi Senjata yang Ditempa dalam Kebrutalan


Kemampuan teknis di atas kertas dan uji coba di pangkalan udara yang steril barulah babak pembuka dari riwayat panjang jet tempur ini. Ujian sejati dari sebuah mesin perang adalah kebrutalan di medan pertempuran yang sesungguhnya. Ketika Uni Soviet memutuskan untuk melintasi perbatasan dan terjun ke dalam perang berdarah di pegunungan Afghanistan, Su-17 dipaksa berhadapan dengan takdirnya. Di sana, di antara tebing-tebing batu yang tajam dan ancaman rudal pencari panas yang dipasok oleh CIA, sang "Palu Gada Terbang" ini harus membuktikan apakah filosofi desainnya mampu bertahan, atau justru menjadi peti mati bagi para pilotnya.

Bagaimana Su-17 bertransformasi menjadi momok mematikan di bawah kepulan asap perang Afghanistan? Simak kelanjutan kisahnya pada artikel bagian kedua.

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

Sumber: 
1. World Modern Warplane
2. Wikipedia 
3. Beberapa sumber lain

Rabu, 24 Juni 2026

Di Balik Bayang-bayang Optik: Mengungkap "Neraka" Teknis dan Masa Depan SVD Dragunov (Artikel Bagian Kedua)


Senapan Penembak Jitu (Designated Marksman Rifle) SVD Dragunov.
Senapan Penembak Jitu
Designated Marksman Rifle - SVD Dragunov
militerbanget.blogspot.com

Beraban, Tabanan, Bali, Rabu, 24 Juni 2026

Setelah pada bagian pertama kita mengulas bagaimana SVD Dragunov merevolusi doktrin perang infanteri dengan konsep DMR-nya yang brilian di bagian pertama, kini saatnya kita melihat sisi lain dari koin tersebut. Reputasi menakutkan yang dibangun di Vietnam dan Afghanistan seringkali menutupi realitas teknis yang harus dihadapi oleh para operatornya. SVD bukan tanpa cela; ia adalah mesin yang menuntut pemahaman mendalam dan disiplin tinggi, atau ia akan menjadi beban yang berat bagi penggunanya di garis depan.

Senapan Penembak Jitu (Designated Marksman Rifle) SVD Dragunov.
Senapan Penembak Jitu
Designated Marksman Rifle - SVD Dragunov
militerbanget.blogspot.com

Neraka Teknis: Tingkat Akurasi dan Panas Laras


Salah satu kritik terbesar terhadap SVD yang sering luput dari dokumentasi populer adalah fenomena "laras tipis". Untuk menjaga bobot senapan tetap ringan, Dragunov menggunakan laras yang relatif tipis dibandingkan senapan sniper modern. Dampaknya, setelah menembakkan beberapa peluru secara berurutan, laras akan memanas dengan sangat cepat. Panas ini menyebabkan laras sedikit melengkung atau "bernafas", yang secara drastis mengubah titik jatuh peluru (point of impact).

Bagi seorang penembak jitu, ini adalah neraka. Presisi yang diharapkan pada tembakan kelima mungkin tidak lagi sama dengan tembakan pertama. Hal ini membatasi peran SVD; senapan ini bukanlah pertempuran statis yang panjang, melainkan untuk serangan cepat "satu tembakan, satu eliminasi" sebelum posisi penembak terdeteksi. Selain itu, penggunaan peluru kaliber 7.62x54mmR yang merupakan peluru dengan desain rimmed (berpinggiran) seringkali menimbulkan masalah pada sistem pasokan amunisi pada magasin jika tidak dirawat dengan sempurna.

Senapan Penembak Jitu (Designated Marksman Rifle) SVD Dragunov.
Senapan Penembak Jitu
Designated Marksman Rifle - SVD Dragunov
militerbanget.blogspot.com

Tantangan Ergonomi dan Optik yang Ketinggalan Zaman


Meskipun optik PSO-1 dianggap revolusioner pada masanya, di era modern, optik ini mulai menunjukkan keterbatasannya. Perbesaran yang hanya 4x dianggap kurang memadai untuk pertempuran jarak sangat jauh yang kini umum terjadi. Selain itu, sistem pemasangan optik di samping (side-mount) khas Rusia membuat perletakan pipi pada popor terasa canggung bagi banyak pengguna, yang dapat memengaruhi konsistensi bidikan dalam durasi lama.

Belum lagi masalah "eye relief". Penembak harus memosisikan mata pada jarak yang sangat spesifik dari lensa untuk mendapatkan pandangan penuh. Dalam tekanan pertempuran, mencari posisi mata yang sempurna ini bisa memakan waktu yang cukup lama. SVD menuntut operatornya untuk beradaptasi dengan senapan, bukan sebaliknya. Ini adalah karakteristik senjata Soviet yang mengutamakan fungsi di atas kenyamanan pengguna, sebuah filosofi yang bagi sebagian orang adalah kekuatan, namun bagi yang lain adalah hambatan.

Senapan Penembak Jitu (Designated Marksman Rifle) SVD Dragunov.
Senapan Penembak Jitu
Designated Marksman Rifle - SVD Dragunov
militerbanget.blogspot.com

Evolusi dan Upaya Modernisasi


Menyadari kelemahan tersebut, Rusia tidak tinggal diam. Versi modern seperti SVD-M dan SVDK mulai diperkenalkan. Perubahan mencakup laras yang lebih tebal untuk mengatasi masalah panas, serta penggunaan rel Picatinny yang memungkinkan pemasangan optik modern yang lebih fleksibel. Namun, inti dari senjata ini tetap sama. Ia tetap menjadi penghubung antara infanteri dan artileri.

Di tangan seorang penembak yang terlatih, SVD tetap menjadi alat yang sangat efisien. Dengan peluru modern 7N14 yang dirancang khusus untuk akurasi tinggi, SVD masih mampu menjangkau target hingga 800 meter dengan presisi yang mematikan. Kehadirannya di konflik-konflik terbaru menunjukkan bahwa meski sudah berusia lebih dari setengah abad, desain dasar Dragunov masih memiliki relevansi yang kuat di medan perang modern yang semakin kompleks.


Senapan Penembak Jitu (Designated Marksman Rifle) SVD Dragunov.
Senapan Penembak Jitu
Designated Marksman Rifle - SVD Dragunov
militerbanget.blogspot.com

Penutup


SVD Dragunov adalah bukti nyata bahwa sebuah desain yang solid dapat melampaui waktu. Ia mungkin memiliki keterbatasan teknis yang disebut sebagian orang sebagai "neraka" bagi operatornya, namun keandalannya yang tak tertandingi dan kemampuannya untuk beroperasi di bawah kondisi paling brutal menjadikannya legenda yang tak tergantikan. SVD tidak mencoba menjadi senapan sniper paling presisi di dunia; ia hanya mencoba menjadi yang paling berguna di medan perang. Dan dalam hal itu, Dragunov telah berhasil melampaui ekspektasi siapa pun, tetap tegak berdiri sebagai salah satu pilar persenjataan militer dunia.

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

Sumber: 
1. World Modern Warplane
2. Wikipedia 
3. Beberapa sumber lain

Selasa, 23 Juni 2026

Legenda Snayperskaya Vintovka: Bagaimana SVD Dragunov Mendefinisikan Ulang Perang Jarak Menengah (Artikel Bagian Pertama)


Senapan Penembak Jitu SVD Dragunov - Sang Legenda dari Uni Soviet
Senapan Penembak Jitu
Designated Marksman Rifle - SVD Dragunov
militerbanget.blogspot.com

Beraban, Tabanan, Bali, Selasa, 23 Juni 2026

Dalam sejarah persenjataan pasukan infanteri, sangat sedikit senapan yang mampu mencapai status ikonik sekaligus fungsional seperti SVD Dragunov. Muncul di era puncak Perang Dingin, senapan ini bukan sekadar alat pembunuh; ia adalah manifestasi dari filosofi militer Soviet yang pragmatis namun mematikan. Sementara Barat fokus pada senapan runduk (sniper) dengan mekanisme bolt-action yang lambat namun sangat presisi, Uni Soviet memilih jalan yang berbeda. Mereka menciptakan sebuah kategori baru: Designated Marksman Rifle (DMR) pertama yang dibuat khusus di dunia. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebilah baja dan kayu dari Izhevsk berhasil membuat militer dunia gemetar.

Senapan Penembak Jitu SVD Dragunov - Sang Legenda dari Uni Soviet
Senapan Penembak Jitu
Designated Marksman Rifle - SVD Dragunov
militerbanget.blogspot.com

Kelahiran Sang Pemburu: Filosofi di Balik Desain

Uni Soviet belajar banyak dari pengalaman pahit di Perang Dunia II. Mereka menyadari bahwa mayoritas kontak senjata terjadi pada jarak di luar jangkauan senapan serbu standar (AK-47), namun masih terlalu dekat untuk artileri. Ada celah antara 300 hingga 600 meter yang tidak terisi. Untuk mengisi celah ini, Evgeniy Dragunov ditugaskan untuk merancang senapan semi-otomatis yang ringan, andal, namun memiliki akurasi yang cukup untuk menjatuhkan target bernilai tinggi.

(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Tank Tempur Utama / Main Battle Tank - Leclerc)

Dragunov tidak sekadar memodifikasi desain AK-47. Meskipun secara visual banyak kemiripan, SVD adalah senjata yang sama sekali berbeda. Senapan ini mengadopsi sistem gas short-stroke piston yang mengurangi komponen yang bergerak selama siklus penembakan, yang otomatis mengurangi guncangan sehingga secara krusial meminimalkan gangguan pada stabilitas bidikan. Dengan laras yang panjang dan penggunaan peluru kaliber 7.62x54mmR—peluru yang sama yang digunakan senapan legendaris Mosin-Nagant—SVD lahir sebagai predator yang sangat efisien di medan perang.

Senapan Penembak Jitu SVD Dragunov - Sang Legenda dari Uni Soviet
Senapan Penembak Jitu
Designated Marksman Rifle - SVD Dragunov
militerbanget.blogspot.com

Desain Ergonomis dan Estetika Mematikan

Salah satu fitur yang paling mencolok dari Dragunov adalah popor yang menerapkan design skeletonized. Design ini dipilih bukan hanya untuk estetika, melainkan untuk mengurangi bobot total senjata tanpa mengorbankan integritas struktural. Di era di mana senapan sniper biasanya berat dan kaku, Dragunov menawarkan kelincahan. Seorang penembak jitu Soviet bisa bergerak cepat bersama unit infanteri reguler, memberikan dukungan tembakan presisi tanpa memperlambat laju pasukan.

Selain itu, optik PSO-1 yang terintegrasi menjadi kunci kehebatan SVD. Teropong ini dilengkapi dengan reticle stadiametrik yang memungkinkan penembak memperkirakan jarak target manusia dengan cepat hanya dengan melihat tingginya. Fitur iluminasi pada optik ini, yang ditenagai oleh baterai atau bahan radioaktif tritium pada model lama, memungkinkan operasional dalam kondisi cahaya rendah. Kesederhanaan dan fungsionalitas ini membuat SVD menjadi senjata yang sangat menakutkan karena siapa pun yang memegangnya bisa menjadi ancaman serius dalam waktu singkat.

Senapan Penembak Jitu SVD Dragunov - Sang Legenda dari Uni Soviet
Senapan Penembak Jitu
Designated Marksman Rifle - SVD Dragunov
militerbanget.blogspot.com

Reputasi Berdarah di Medan Perang Global

Keganasan SVD Dragunov benar-benar teruji ketika ia diekspor ke berbagai zona konflik di seluruh dunia. Di hutan-hutan Vietnam, senapan ini menjadi momok bagi pasukan Amerika. Begitu berharganya senjata ini hingga CIA dilaporkan pernah menawarkan hadiah sebesar 25.000 dolar Amerika hanya untuk satu unit SVD yang berhasil dirampas. Mengapa? Karena Barat ingin membedah rahasia di balik senapan semi-otomatis yang bisa menembak seakurat senapan bolt-action mereka.


Keandalan SVD di lingkungan ekstrem—dari debu padang pasir Timur Tengah hingga suhu beku pegunungan Afghanistan—memperkuat statusnya sebagai senjata "tahan banting". Berbeda dengan senapan sniper Barat yang seringkali rewel jika terkena kotoran, SVD tetap berfungsi dengan toleransi khas desain Soviet. Ia bukan sekadar senjata; ia adalah asuransi nyawa bagi unit infanteri yang terjepit dalam baku tembak jarak jauh.

Senapan Penembak Jitu SVD Dragunov - Sang Legenda dari Uni Soviet
Senapan Penembak Jitu
Designated Marksman Rifle - SVD Dragunov
militerbanget.blogspot.com

Namun, di balik semua reputasi hebatnya, benarkah SVD adalah senapan sniper yang sempurna? Ataukah ia justru memicu "neraka" tersendiri bagi penggunanya karena keterbatasan teknis yang jarang dibahas? Mengapa militer modern masih mempertahankannya meski teknologi sudah jauh melampauinya? Kita akan membedah sisi gelap, mekanisme internal yang rumit, dan alasan mengapa SVD tetap menjadi ancaman yang belum tuntas di bagian kedua.

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

Sumber: 
1. World Modern Warplane
2. Wikipedia 
3. Beberapa sumber lain

Senin, 22 Juni 2026

Tragedi Operasional Yak-38 Forger dan Warisan Rahasia yang Dicuri F-35 Lightning II


Pesawat Tempur Yakovlev Yak-38 Forger dan teknologi yang Dicuri F-35 Lightning
Pesawat Tempur VTOL Yakovlev Yak-38
militerbanget.blogspot.com

Beraban, Tabanan, Bali, Minggu, 21 Juni 2026

Pada bagian pertama, kita telah membedah bagaimana rekayasa radikal tiga mesin dan sistem pelontar otomatis SK-EM menjadikan Yak-38 Forger salah satu pesawat paling unik sekaligus berbahaya yang pernah dibangun oleh Uni Soviet. Namun, teori di atas meja desain harus menghadapi realitas pahit ketika jet tempur vertikal ini benar-benar dikirim ke garis depan, menghadapi iklim ekstrem, dan mengemban tugas taktis yang melampaui batas kemampuannya.

Pesawat Tempur Yakovlev Yak-38 Forger dan teknologi yang Dicuri F-35 Lightning
Pesawat Tempur VTOL Yakovlev Yak-38
militerbanget.blogspot.com

Ujian Logistik dan Operasi "Romb" di Afghanistan

Ketika konflik di Afghanistan pecah, Uni Soviet melihat kesempatan emas untuk menguji kemampuan Yak-38 di luar lingkungan laut. Di bawah kode operasi "Romb", beberapa unit Forger dikerahkan ke pangkalan udara darurat di wilayah pegunungan yang tinggi dan gersang. Hasilnya? Sebuah bencana taktis yang membuka mata para petinggi militer.

(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Penerus Senapan Serbu “Terbaik di Dunia”, Senapan Serbu / Assault Rifle - AKM)

Prinsip dasar fisika udara panas terbukti menjadi musuh terbesar Forger. Di wilayah dengan elevasi tinggi dan suhu udara yang menyengat, kepadatan udara menurun drastis. Mesin Tumansky R-28 dan mesin angkat RD-36 kehilangan sebagian besar daya dorong (thrust) mereka. Akibatnya, jet ini kerap kali sama sekali tidak mampu terangkat secara vertikal jika membawa beban senjata penuh. Pilot terpaksa melakukan lepas landas pendek dengan kecepatan maju (Short Take-Off), sebuah teknik yang sebenarnya tidak dirancang secara optimal untuk sayap kecil pesawat ini. Selain itu, debu halus yang merupakan hal alami di Afghanistan yang terhisap oleh tiga mesin jet tersebut mempercepat keausan komponen internal, membuat jam perawatan membengkak secara tidak masuk akal demi mempertahankan beberapa menit waktu terbang di udara.

Pesawat Tempur Yakovlev Yak-38 Forger dan teknologi yang Dicuri F-35 Lightning
Pesawat Tempur VTOL Yakovlev Yak-38
militerbanget.blogspot.com

Ironi di Atas Geladak Kapal Penjelajah

Kembali ke habitat aslinya di atas kapal penjelajah kelas Kiev, pengoperasian Yak-38 tidak menjadi lebih mudah. Fase pendaratan vertikal di atas kapal yang bergerak di tengah ombak laut lepas adalah salah satu manuver penerbangan paling menegangkan. Semburan gas panas berkekuatan masif dari tiga mesin jet Forger yang mengarah langsung ke bawah tidak hanya membakar lapisan pelindung panas di geladak kapal, tetapi juga menciptakan fenomena terhisapnya kembali gas buang ke dalam intake mesin jet. Gas panas yang memantul dari geladak terhisap kembali ke dalam saluran udara mesin, mengurangi pasokan oksigen dan menyebabkan penurunan daya dorong secara mendadak tepat pada saat pesawat dalam proses melayang (lifting) beberapa meter di atas dek.

Kondisi operasional yang sangat terbatas ini membuat peran taktis Forger di laut menjadi sangattidak efesien. Alih-alih menjadi momok menakutkan bagi armada Barat, keberadaan Forger di atas kapal penjelajah Soviet lebih berfungsi sebagai alat propaganda psikologis dan sarana bagi Angkatan Laut Soviet untuk membangun doktrin awal penerbangan sayap tetap di laut, mengumpulkan data berharga untuk generasi pesawat masa depan.

Pesawat Tempur Yakovlev Yak-38 Forger dan teknologi yang Dicuri F-35 Lightning
Pesawat Tempur VTOL Yakovlev Yak-38
militerbanget.blogspot.com

Dari Yak-38 ke Yak-141: Evolusi yang Terputus

Sadar akan segala kelemahan fatal Forger, Biro Yakovlev tidak tinggal diam. Mereka segera memulai proyek ambisius berikutnya untuk menciptakan jet tempur VTOL supersonik sejati pertama di dunia: Yakovlev Yak-141 "Freestyle".

Dalam proyek Yak-141, Yakovlev menyempurnakan konfigurasi mesin angkat. Mereka menggabungkan mesin angkat depan dengan satu mesin utama di belakang yang dilengkapi dengan nosel artikulasi canggih yang mampu berputar 90 derajat ke bawah dengan sistem penggerak roda gigi segmen putar (swivel-nozzle). Yak-141 berhasil memecahkan sejumlah rekor dunia untuk pesawat kelas VTOL dan menunjukkan potensi luar biasa sebagai penantang serius dominasi udara Barat. Namun, runtuhnya Uni Soviet menghentikan pendanaan proyek ini secara total, meninggalkan purwarupa Yak-141 terdampar di hanggar tanpa masa depan operasional.

Pesawat Tempur Yakovlev Yak-38 Forger dan teknologi yang Dicuri F-35 Lightning
Pesawat Tempur VTOL Yakovlev Yak-38
militerbanget.blogspot.com

Warisan Rahasia yang Menghidupkan F-35 Amerika

Di sinilah sejarah penerbangan mengambil kelokan yang paling ironis. Pada era krisis finansial pasca-Soviet, Biro Yakovlev membutuhkan dana segar untuk bertahan hidup. Di lain pihak, raksasa kedirgantaraan Amerika Serikat, Lockheed Martin, sedang memenangkan kontrak awal proyek Joint Strike Fighter (JSF) yang kelak melahirkan F-35 Lightning II. Lockheed membutuhkan solusi rekayasa mekanis untuk varian VTOL mereka, F-35B.

(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Tank Tempur Utama / Main Battle Tank - Leclerc)

Melalui kemitraan resmi yang jarang dipublikasikan secara luas, Lockheed Martin menggelontorkan dana ke Yakovlev untuk membeli dokumen desain, data uji terbang, dan cetak biru teknis dari sistem nosel pengarah mesin Yak-141. Jika Anda melihat mekanisme nosel tiga segmen putar (3-bearing swivel duct nozzle) yang digunakan oleh pesawat tempur F-35B milik Korps Marinir AS hari ini untuk mendarat secara vertikal, Anda sedang melihat garis keturunan rekayasa langsung yang dirintis oleh para insinyur Yakovlev puluhan tahun sebelumnya. DNA dari kegagalan dan eksperimen nekat Yak-38 Forger, yang disempurnakan pada Yak-141, justru hidup dan menjadi tulang punggung kekuatan udara paling modern milik blok Barat saat ini.

Pesawat Tempur Yakovlev Yak-38 Forger dan teknologi yang Dicuri F-35 Lightning
Pesawat Tempur VTOL Yakovlev Yak-38
militerbanget.blogspot.com

Catatan penutup:

Pesawat tempur Yakovlev Yak-38 Forger sering kali dicatat dalam buku-buku sejarah Barat dengan nada miring sebagai jet tempur cacat yang tidak efektif di medan laga. Namun, melihat Forger hanya dari efisiensi tempurnya adalah sebuah kesalahan perspektif yang dangkal. Forger adalah batu loncatan teknologi yang sangat berani. Ia membuktikan bahwa rekayasa militer tidak selalu berupa garis lurus menuju kemenangan instan; sering kali, ia adalah rangkaian eksperimen berbahaya yang menguji batas maksimal kemampuan manusia dan mesin.

Tanpa keberanian Uni Soviet untuk menerbangkan "We have Harrier at home" yang rumit ini di atas samudera-samudera dunia, dunia tidak akan pernah menyaksikan lompatan teknologi teknologi vertikal yang mendominasi langit modern kita saat ini. Dalam sejarah penerbangan militer, Forger tetap tegak berdiri sebagai monumen baja atas ambisi tanpa batas era Perang Dingin.

Pesawat Tempur Yakovlev Yak-38 Forger dan teknologi yang Dicuri F-35 Lightning
Pesawat Tempur VTOL Yakovlev Yak-38
militerbanget.blogspot.com

Spesifikasi Pesawat Tempur/Fighter Aircraft - VTOL - Yakovlev Yak-38M


Karakteristik umum
  • Awak: 1 orang
  • Panjang: 16,37 m (53 kaki 8 inci)
  • Rentang sayap: 7,32 m (24 kaki 0 inci)
  • Tinggi: 4,25 m (13 kaki 11 inci)
  • Luas sayap: 18,5 m² (199 kaki persegi)
  • Berat kosong: 7.385 kg (16.281 lb)
  • Berat lepas landas maksimum: 11.300 kg (24.912 lb)

Dapur pacu
  • Unit mesin utama: 1 × mesin turbofan Tumansky R-28 V-300 dengan daya dorong terarah, daya dorong 66,7 kN (15.000 lbf) untuk daya angkat dan daya dorong jelajah.
  • Unit mesin pengangkat: 2 × mesin turbojet Rybinsk (RKBM) RD-38, masing-masing dengan daya dorong 31,9 kN (7.200 lbf) lift-jets

Performa
  • Kecepatan maksimum: 1.050 km/jam (650 mph, 570 knot)
  • Jarak jelajah maksimum: 1.300 km (810 mil, 700 mil laut)
  • Elevasi oeprasional maksimum: 11.000 m (36.000 kaki)
  • Kecepatan pendakian: 75 m/s (14.800 kaki/menit)

Pesawat Tempur Yakovlev Yak-38 Forger dan teknologi yang Dicuri F-35 Lightning
Pesawat Tempur VTOL Yakovlev Yak-38
militerbanget.blogspot.com

Persenjataan
  • Senjata tetap: 2 × senjata GSh-23L 23 mm yang dibawa dalam sepasang pod UPK-23-250 yang dipasang di bawah pylon eksternal bidang sayap
  • Hardpoint (cantelan/pylon): 4 titik dengan kapasitas 2.000 kg (4.400 lb), dengan ketentuan untuk membawa kombinasi:
  • Roket: berbagai jenis roket hingga 240 mm (9,4 inci): 64 × 57 mm S-5 (4 × peluncur UB-16-57 atau 2 × peluncur UB-32A); 40 × 80 mm S-8 (2 × peluncur B-8M1); 2 × 240 mm S-24
  • Rudal: 2 × rudal anti-kapal atau udara-ke-permukaan Kh-23 (AS-7 Kerry); dua rudal udara-ke-udara R-60 atau R-60M (AA-8 Aphid) dapat dibawa di bawah pylon eksternal
  • Bom: 2 × FAB-500 atau 4 × FAB-250 atau 8 × FAB-100 bom serbaguna di bawah pylon; dua bom pembakar ZB-500; satu bom nuklir RN-28 dan satu FAB-250
  • Lainnya: tangki bahan bakar tambahan

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

Sumber: 
1. World Modern Warplane
2. Wikipedia 
3. Beberapa sumber lain