Pada bagian pertama, kita telah mengupas tuntas latar belakang di balik terciptanya AT-105 Saxon, sang "taksi tempur" era Perang Dingin yang dirancang dari cetak biru truk Bedford TM demi menjawab krisis mobilitas militer Inggris di Eropa. Dengan perlindungan sasis anti-ranjau yang kuat serta kecepatan yang mumpuni untuk melibas jalanan aspal antarnegara, Saxon seharusnya menjadi legenda tanpa cela. Akan tetapi, jika kendaraan lapis baja ini memang sangat tangguh dan fungsional seperti di atas kertas, lantas mengapa kariernya di dalam tubuh militer Inggris justru dibunuh dengan cara yang begitu mengejutkan dan sarat akan polemik politik? Mari kita selami sisi gelap dan kontroversial dari sejarah perjalanan sang raksasa baja ini.
Jejak Berdarah Saxon: Dari Timur Tengah Hingga Huru-hara Bosnia
Sejak pengerahan perdananya di pangkalan-pangkalan Jerman Barat pada tahun 1983, AT-105 Saxon dengan segera membuktikan dirinya sebagai "kuda beban" sejati bagi seluruh resimen Angkatan Bersenjata Inggris. Kehadirannya tidak hanya mengisi ruang kekosongan angkut personel semata. Fleksibilitas rancangan sasis dasar Bedford memungkinkan para insinyur militer Inggris untuk mengembangkan berbagai varian fungsional tambahan dari tubuh Saxon. Varian-varian tersebut mencakup kendaraan pemulihan (recovery vehicle) berat yang dilengkapi dengan sistem derek mekanis di sisi samping untuk menarik alutsista yang rusak, serta varian kendaraan komando lapangan. Secara operasional, senjata standar yang kerap dipasangkan untuk membela diri adalah sebuah menara senapan mesin berkaliber 7,62 milimeter yang bertengger kokoh di bagian atapnya.
(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Kendaraan Tempur Pendukung Tank "Terminator" Menuai Pujian Media AS)
Jejak langkah pertempuran Saxon nyatanya membentang jauh di luar perbatasan benua Eropa yang dingin. Memasuki dekade 90-an hingga tahun-tahun awal 2000-an, deru mesin Saxon menjadi hal yang sangat lumrah ditemui dalam berbagai operasi panjang militer Inggris di Timur Tengah dan kawasan konflik berintensitas tinggi lainnya. Dari terjangan badai pasir di Oman dan Irak, medan pegunungan yang kering dan tak bertuan di Afghanistan, hingga misi penjaga perdamaian yang menegangkan di tengah puing-puing kota Bosnia. Walaupun secara teknis banyak pihak yang mencibirnya sebagai sekadar "truk kargo yang dimodifikasi dan diberi cangkang baja ringan," perlindungan bodi monocoque miliknya terbukti sangat ampuh. Dinding baja tersebut berkali-kali menjadi pembatas tipis antara hidup dan mati bagi satuan prajurit di dalamnya saat mereka disergap tembakan gerilya atau melintasi zona merah perang.
Dikhianati Jenderal Sendiri: Skandal Kelam di Tubuh Militer Inggris
Namun sayangnya, narasi heroisme Saxon di angkatan bersenjata Inggris terpaksa dipangkas paksa dengan cara yang amat memalukan. Pada periode tahun 2005 hingga 2006, militer Inggris secara resmi mendepak seluruh unit Saxon dari penugasan garis depan. Eksekutor dari keputusan radikal ini adalah seorang perwira tinggi militer, yakni Jenderal Francis Richard Dannatt. Dalam sebuah pernyataan publik yang sangat menusuk, Jenderal Dannatt berdalih bahwa kendaraan tempur tersebut terpaksa ditarik karena "secara keseluruhan sudah tidak lagi cocok dengan kebutuhan operasi militer milenium ini."
Sentimen kebencian Dannatt terhadap peninggalan era Perang Dingin ini ternyata sangat membekas. Bertahun-tahun berselang, ketika mencuat kabar bahwa unit-unit Saxon bekas pakai militer Inggris disumbangkan dan dibeli oleh negara Ukraina, Jenderal Dannatt secara terang-terangan meluapkan kemurkaannya di media massa. Sang Jenderal dengan lantang menyebutkan bahwa ia merasa sangat marah memikirkan negara-negara Barat tega menyuplai "truk semi-lapis baja yang tidak ada gunanya sama sekali" kepada pasukan infanteri Ukraina yang sedang terdesak peluru artileri. Dengan retorika pedasnya, Dannatt mengecam keras dengan menegaskan bahwa Saxon adalah kendaran usang yang seharusnya "dijauhkan dari garis depan medan pertempuran mana pun di dunia ini."
Tragedi "Peti Mati Berjalan" dan Kentalnya Aroma Kolusi Alutsista
Ironisnya, kritik tajam sang Jenderal justru meledakkan sebuah bom skandal baru yang mengundang sorotan tajam ke arah proses pengadaan alutsista darat Inggris. Banyak pengamat pertahanan militer, jurnalis investigasi, dan veteran lapangan yang serta merta membongkar standar ganda dari sang Jenderal. Perlu dicatat dalam buku sejarah bahwa Jenderal Dannatt sebelumnya dikritik habis-habisan atas perannya dalam mendukung pengerahan kendaraan taktis ringan bernama Land Rover Snatch. Berbeda dengan Saxon, Land Rover Snatch pada dasarnya murni kendaraan off-road 4x4 beratap kanvas yang baru disisipi pelat baja seadanya, yang terbukti secara tragis gagal total menahan gelombang ledakan mematikan IED di jalur suplai Irak dan Afghanistan. Begitu fatal dan tingginya angka kematian prajurit di dalam kendaraan tersebut, hingga angkatan bersenjata sendiri memanggil Land Rover Snatch dengan julukan suram: "Peti Mati Berjalan".
Bagi kalangan prajurit infanteri yang mempertaruhkan nyawa di aspal yang dipenuhi bom, membandingkan proteksi Land Rover Snatch dengan baja AT-105 Saxon ibarat membandingkan kertas karton dengan dinding beton. Meskipun Saxon telah termakan usia dan memiliki desain lawas, ketahanan bodi baja V-hull miliknya membuat kendaraan ini terlihat setangguh Tank Tempur Utama (Main Battle Tank) dibandingkan Snatch. Kecurigaan para analis pun semakin menebal tatkala terungkap bahwa Jenderal Dannatt juga merupakan advokat atau pendukung keras untuk memuluskan proyek kendaraan Pinzgauer Vector yang disokong oleh perusahaan raksasa BAE Systems. Sederet fakta ini memunculkan dugaan masif akan adanya konflik kepentingan yang sistematis dan kolusi industri. Banyak pihak meyakini bahwa alasan sebenarnya di balik "pembunuhan karakter" Saxon bukanlah soal usia atau kelemahan teknis, melainkan ambisi meloloskan kontrak baru bernilai triliunan rupiah.
Bangkit dari Kubur: Menjadi Pelindung Nyawa Infanteri Ukraina
Namun, seolah semesta ingin membenarkan ketangguhan Saxon, mesin perang baja ini menolak untuk mati, dan malah menemukan kejayaannya setelah "ditendang" dari negaranya sendiri. Perlahan tapi pasti, banyak unit Saxon yang dilelang bebas berpindah kepemilikan. Sejak akhir dekade 80-an (bahkan sebelum masa pensiunnya), potensi Saxon telah dilirik oleh Kepolisian Hong Kong. Pasukan khusus dari wilayah otonom tersebut mengoperasikan sekitar tujuh unit Saxon untuk mengendalikan huru-hara kelas berat hingga akhirnya baru digantikan oleh Mercedes Unimog pada tahun 2009.
(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Pesawat Tempur Siluman / Stealth Fighter - F-117A Nighthawk (Tulisan ke 2))
Eksistensi paling dramatis dari Saxon di era militer kontemporer justru meledak pada tahun 2015. Secara mengejutkan, sebanyak 75 unit Saxon bekas Inggris merapat ke jantung Eropa Timur untuk terjun ke kancah Perang Donbass yang sangat brutal. Militer Ukraina yang tengah berdarah-darah mempertahankan kedaulatannya dari cengkeraman pemberontak pro-Rusia, menyambut Saxon dengan tangan terbuka. Mengingat konflik di teater perang tersebut bereskalasi menjadi invasi masif hingga hari ini, sangat masuk akal jika unit-unit "truk tua" ini masih meraung-raung mengantarkan amunisi dan mengevakuasi prajurit Ukraina di tengah rentetan tembakan artileri modern. Selain di Eropa Timur, daftar negara pembeli tangan kedua terus bertambah; mulai dari Mozambik, Malaysia, Somalia, Irak, hingga Republik Demokratik Kongo yang tetap memercayakan perlindungan tentaranya pada Saxon selama satu dekade terakhir.
Bagi mereka yang bernostalgia atau ingin menyentuh langsung warisan Perang Dingin ini, AT-105 Saxon kini diabadikan sebagai artefak sejarah bernilai tinggi. Publik masih bisa menjumpai raksasa baja ini terparkir gagah di berbagai museum tersohor, seperti di Imperial War Museum di Lanud Duxford, Cambridge, atau di Museum REME (Korps Insinyur Listrik dan Mekanik Kerajaan) di Chippenham, Inggris. Pada konklusinya, waktu dan medan perang adalah hakim yang paling jujur. Dengan terus mengamankan nyawa prajurit di berbagai palagan paling mematikan dunia, AT-105 Saxon membuktikan secara telak bahwa reputasinya jauh melampaui cemoohan tajam para elit politik di masa lalunya. Kuda beban lapis baja ini pada akhirnya menang, membungkam segala ekspektasi rendah yang pernah dilontarkan kepadanya.
Spesifikasi Kendaraan Lapis Baja Pengangkut Personel Armoured Personnel Carrier (APC) AT-105 Saxon
Umum
- Jenis: Kendaraan pengangkut personel lapis baja
- Asal negara: Britania Raya
- Operasional aktif: Tahun 1976–sekarang
Catatan konflik
- Perang dingin
- Konflik di Irlandia Utara
- Perang Teluk
- Perang Bosnia
- Perang Kosovo
- Perang di Afghanistan (2001–2021)
- Perang Irak
- Perang Rusia-Ukraina
Catatan produksi
- Perancang: GKN Sankey
- Dirancang: Tahun 1975–1976
Pabrikan
- GKN Sankey
- Alvis
- Alvis Vickers
- BAE Systems
Spesifikasi Teknis dan Dimensi
- Bobot standar: 9.940 kg (21.910 lb) (standar)
- Bobot operasional: 11.660 kg (25.710 lb) (tempur)
- Panjang: 5,17 m (17 kaki 0 inci)
- Lebar: 2,49 m (8 kaki 2 inci)
- Tinggi: 2,86 m (9 kaki 5 inci)
- Awak: 2 Orang
Persenjataan
- Senjata utama: Senapan mesin 7,62 mm
- Senjata sekunder: tidak ada
Dapur pacu dan kapabilitas
- Mesin Bedford 500 6-silinder diesel dengan daya 164 hp (122 kW)
- Rasio daya/berat: 14,06 hp/t (10,48 kW/t)
- Kapasitas muatan: 10 penumpang
- Sistem transmisi: Transmisi otomatis Allison AT-545 dengan 4 gigi maju dan 1 gigi mundur.
- Suspensi: pegas daun dengan peredam kejut hidrolik
- Kapasitas bahan bakar 153 L (34 galon Inggris)
- Jangkauan operasional: 510 km (320 mil)
- Kecepatan maksimum: 96 km/jam (60 mph)
Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu
Sumber:
1. Military Armor Vehicle
2. Wikipedia
3. Beberapa sumber lain










