Senin, 12 April 2021

Pesawat Transport Taktis / Tactical Transport Aircraft - TRANSALL C-160 (Bagian 1)


Pesawat Transall C-160, kuda beban angkut militer dari era Perang Dingin
Pesawat Transport Taktis
Tactical Transport Aircraft - TRANSALL C-160
militerbanget.blogspot.com

Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin, 12 April 2021

Di tengah gemuruh mesin turboprop yang ikonik, Transall C-160 telah mengabdi lebih dari setengah abad. Bukan sekadar alat angkut, ia adalah saksi bisu logistik militer Eropa yang kini perlahan harus memberi jalan kepada sang penerus, Airbus A400M. Mari kita bedah rekam jejak 'si kuda beban' dari era Perang Dingin ini.

Pesawat Transall C-160, kuda beban angkut militer dari era Perang Dingin
Pesawat Transport Taktis
Tactical Transport Aircraft - TRANSALL C-160
militerbanget.blogspot.com

Lahirnya Konsorsium TRANSALL


Pesawat transport militer C-160 dikembangkan dan diproduksi bersama oleh perusahaan asal Jerman Barat (saat ini Jerman) dan Prancis. Perjanjian antara dua negara untuk mengembangkan pesawat baru tersebut ditandatangani pada tahun 1957. Italia juga terlibat dalam tahap awal proyek, tetapi kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari proyek tersebut dan memilih untuk mengembangkan pesawat dalam negeri mereka. 

Pesawat Transall C-160, kuda beban angkut militer dari era Perang Dingin
Pesawat Transport Taktis
Tactical Transport Aircraft - TRANSALL C-160
militerbanget.blogspot.com

Spesifikasi dan Kapabilitas Operasional


Pada tahun 1959, sebuah konsorsium Transporter Allianz dibentuk (TRANSALL). Terdiri dari Nord Aviation of France dan Weser Flugzeugbau dan Hamburger Flugzeugbaug dari Jerman Barat. Awal kemunculan pesawat ini berdasarkan pada kebutuhan akan sebuah pesawat transport taktis baru, yang memiliki kapasitas angkut sekitar 16 ton kargo, dan mampu menempuh jarak jelajah hingga 1.720 km, atau kapasitas angkut sebesar 8 ton dan menempuh jarak jelajah hingga 4.540 km. 

Pesawat Transall C-160, kuda beban angkut militer dari era Perang Dingin
Pesawat Transport Taktis
Tactical Transport Aircraft - TRANSALL C-160
militerbanget.blogspot.com

"Si Kuda Beban" di Berbagai Negara


Pesawat juga diharuskan untuk dapat beroperasi pada landasan semi permanen (kasar). Pesawat baru tersebut melakukan penerbangan pertamanya pada tahun 1963. Produksi dimulai pada tahun 1965. Pesawat produksi pertama dikirim pada tahun 1967. Awalnya pesawat kargo ini ditujukan untuk angkatan udara Perancis dan Jerman Barat. Pada kelanjutannya, pesawat ini juga diekspor ke Indonesia (6 unit), Afrika Selatan (9 unit, sekarang sudah pensiun) dan Turki. Produksi dihentikan pada tahun 1985. Menurut catatan resmi, total produksi pesawat ini sampai dinayatakan berhenti adalah 214 unit. 

Meskipun usianya sudah tua, pesawat ini masih tetap dioperasikan oleh Jerman (60 unit), Prancis (50 unit) dan Turki (20 unit). Pesawat C-160 saat ini dalam proses untuk dipensiunkan secara total, dan rencananya posisi pesawat ini akan diganti dengan yang baru Atlas Airbus A400M. Namun jika diperlukan masa operasional pesawat C-160 akan terus dipertahankan sampai batas waktu maksimal.


TRANSALL C-160 dirancang untuk mengusung misi transportasi barang, transportasi pasukan, dan evakuasi medis. Selama operasional lebih dari 50 tahun, C-160 telah memberikan dukungan logistik ke sejumlah misi dan operasi.

Pesawat Transall C-160, kuda beban angkut militer dari era Perang Dingin
Pesawat Transport Taktis
Tactical Transport Aircraft - TRANSALL C-160
militerbanget.blogspot.com

Mengapa Memilih Mesin Ganda?


C-160 mengandalkan dapur pacu dua unit mesin turboprop, Rolls Royce Tyne, masing-masing menghasilkan tenaga sebesar 6.100 shp. Mesin ini menggerakkan baling-baling berkomposisi empat bilah. Konfigurasi mesin ganda dipilih daripada konfigurasi empat mesin untuk mengurangi biaya operasional dan produksi. Selain itu, pesawat bermesin ganda memiliki desain yang lebih sederhana dan lebih dapat diandalkan. Selain itu, lebih ringan dan konsumsi bahan bakarnya juga lebih rendah dibandingkan dengan konfigurasi empat mesin. Sayangnya, konfigurasi dua mesin ini tergolong terlalu "riskan" ketimbang empat mesin, yang mana jika terjadi kerusakan pada salah satu mesin, maka pesawat ini akan kehilangan 50 persen tenaganya, sedangkan pada konfigurasi empat mesin, apabila ada salah satu mesin yang disfungsi maka pesawat hanya akan kehilangan 25 persen tenaga.


Artikel oleh: Tuntas Trisunu

Sumber:
1. Military-today
2. Wikipedia
3. Beberapa sumber lain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar