Kamis, 10 Desember 2020

"Sang Harimau Terbang", Helikopter Serang / Attack Helicopter - Eurocopter Tiger


Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Kamis, 10 Desember 2020

Eurocopter EC 665 Tiger, yang dikenal di Prancis dengan nama “Tigre” dan di Jerman sebagai “Tiger”, merupakan salah satu pencapaian paling signifikan dalam industri kedirgantaraan militer Eropa. Helikopter ini dirancang pada tahun 1984 untuk memenuhi kebutuhan mendesak militer Prancis dan Jerman akan helikopter serang multi-peran yang modern. Proyek ini lahir dari skenario perang konvensional di Eropa, di mana aliansi NATO membutuhkan platform yang mampu menahan laju gelombang lapis baja Blok Timur, terutama tank tempur utama (Main Battle Tank/MBT) seperti T-72 dan T-80 yang saat itu mendominasi medan perang dengan jumlah yang sangat masif.

Sejarah Pengembangan dan Produksi


Setelah melalui negosiasi panjang mengenai spesifikasi teknis dan pembagian beban kerja, Eurocopter (sekarang bagian dari Airbus Helicopters) secara resmi menerima kontrak untuk memproduksi lima unit purwarupa pada November 1989. Proyek ini membagi unit tersebut menjadi dua tujuan utama: tiga unit akan berfungsi sebagai testbed aerodinamis tanpa persenjataan, sementara dua unit lainnya adalah purwarupa bersenjata. Fokus utamanya adalah pengembangan varian anti-tank untuk Jerman dan Prancis, serta varian pengawal untuk militer Prancis.

Konfigurasi dasar Tiger mengusung filosofi desain helikopter serang modern, dengan struktur badan pesawat yang hampir seluruhnya menggunakan bahan material komposit. Penggunaan material ini tidak hanya mengurangi bobot helikopter secara signifikan, tetapi juga meningkatkan kemampuan survivability (daya tahan) terhadap serangan balasan di medan perang yang intens. Purwarupa pertama akhirnya mencatatkan penerbangan perdananya pada April 1991, menandai era baru bagi pertahanan udara Eropa.

Variasi dan Spesialisasi Peran


Dalam perjalanannya, terdapat dua tata letak dasar yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan spesifik kedua negara:

  • Varian Jerman (UHT - Unterstutzungshubschrauber Tiger): Jerman membutuhkan sekitar 212 unit helikopter pendukung anti-tank/multi-peran. UHT dilengkapi dengan sistem penglihatan canggih yang terpasang pada tiang rotor utama, mencakup sistem optik inframerah dan laser untuk penembak. Selain itu, terdapat sistem inframerah di bagian hidung untuk membantu pilot. UHT dirancang untuk membawa rudal anti-tank Trigat dan dapat dilengkapi dengan pod meriam Mauser 30mm pada turret.

  • Varian Prancis (HAP & HAD): Militer Prancis awalnya memesan 100 unit varian HAC (helikopter anti-tank) dan 115 unit varian HAP (Helicoptere d'Appui et de Protection). Varian HAP dirancang sebagai helikopter pengawal dan pendukung tembakan, dilengkapi meriam GIAT M30/781B 30mm di bawah hidung. Sistem pencitraan STRIX yang dipasang di atap memberikan kemampuan observasi yang superior. HAP mampu membawa hingga 68 roket SNEB 68mm serta rudal udara-ke-udara Mistral untuk perlindungan diri. Kemudian, muncul varian HAD (Helicoptere d'Appui Destruction) yang mengusung mesin lebih bertenaga dan perlindungan lapis baja yang ditingkatkan, menggantikan konsep awal HAC.

Operasional dan Penggunaan Global


Pada Juni 1999, pemerintah Prancis dan Jerman secara resmi menandatangani kontrak produksi untuk 160 unit pertama. Helikopter ini mulai beroperasi secara aktif dalam militer Jerman dan Prancis masing-masing pada tahun 2002 dan 2003. Keandalan dan fleksibilitas Tiger membuatnya dilirik oleh negara lain. Spanyol menjadi salah satu operator utama dengan varian HAD yang dimodifikasi.

Australia sempat mengoperasikan Tiger (varian ARH - Armed Reconnaissance Helicopter) selama bertahun-tahun. Namun, seiring dengan perkembangan kebutuhan strategis dan masalah ketersediaan suku cadang, pemerintah Australia memutuskan untuk memensiunkan seluruh armada Tiger mereka pada tahun 2024 dan menggantinya dengan helikopter AH-64E Apache buatan Amerika Serikat. Keputusan ini mencerminkan dinamika pemeliharaan alutsista modern yang menuntut efisiensi operasional yang tinggi.

Signifikansi Strategis


EC 665 Tiger tetap menjadi simbol kemandirian pertahanan Eropa. Dengan kemampuan manuver yang luar biasa, integrasi sistem senjata yang presisi, dan desain yang sangat memperhatikan kelangsungan hidup kru, Tiger telah teruji dalam berbagai misi internasional, termasuk di Afghanistan, Libya, dan Mali. Meskipun menghadapi tantangan dalam hal ketersediaan suku cadang dan biaya operasional yang tinggi, Tiger tetap menjadi tulang punggung kekuatan helikopter serang bagi Prancis, Jerman, dan Spanyol. Helikopter ini bukan sekadar mesin perang, melainkan manifestasi dari kolaborasi teknologi lintas negara yang bertujuan menjaga kedaulatan di tengah lanskap geopolitik yang terus berubah.

Spesifikasi Helikopter Serang / Attack Helicopter  - Eurocopter Tiger


  • Asal negara: Prancis & Jerman
  • Operasional aktif: 2002
  • Awak: 2 orang

Dimensi dan berat

  • Panjang: 15,8 m
  • Diameter rotor utama: 13 m
  • Tinggi: 5,2 m
  • Berat (kosong): 3,3 ton
  • Berat (lepas landas maksimum): 6.1 ton

Mesin dan performa

  • Mesin: 2 x mesin turboshaft MTU / Turbomeca / Rolls-Royce MTR 390
  • Daya mesin: 2 x 1.285 shp
  • Kecepatan maksimum: 269 km/jam
  • Elevasi hovering: 3.2 km
  • Jarak jelajah efektif: 800 km
  • Daya tahan terbang: 3 jam 25 menit

Persenjataan

  • Meriam: 1 x Meriam kaliber 30mm
  • Rudal: 8 x HOT-2, HOT-3 atau Trigat 2 rudal anti-tank; 4 x Stinger 2 atau rudal udara-ke-udara jarak pendek Mistral
  • Persenjataan lain: Roket 68 x 68 mm dan senapan mesin kaliber 12,7mm

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

Sumber:
1. Military-today
2. Wikipedia
3. Beberapa sumber lain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar