Pages

Sabtu, 27 Januari 2018

Pesawat Pembom Medium / Medium Bomber - Junkers Ju-52


Pesawat Pembom Medium/Medium Bomber
Junkers Ju-52
militerbanget.blogspot.com

Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 27 Januari 2018

Pesawat yang mempunyai alias atau julukan Tante Ju atau Iron Annie ini sebelumnya adalah pesawat sipil yang diubah menjadi bomber sekaligus pesawat angkut militer antara tahun 1932-1945 oleh pabrik pesawat Junkers. 

Pesawat Pembom Medium/Medium Bomber
Junkers Ju-52
militerbanget.blogspot.com

Menurut beberapa catatan sejarah, pesawat ini menjadi salah satu pesawat terkemuka selama Perang Dunia II. Pesawat Ju-52 ini berpartisipasi dalam berbagai pertempuran besar, seperti Perang Saudara Spanyol, penerjunan Pasukan Payung Jerman di Eropa Barat dan Kreta, hingga pertempuran jembatan udara di Stalingard. Ketika produksi pesawat ini dihentikan pada tahun 1950-an. Pesawat ini telah digunakan oleh lebih dari 30 negara.

(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Tank Tempur Ringan / Light Tank Hotchkiss H-35)

Pesawat Pembom Medium/Medium Bomber
Junkers Ju-52
militerbanget.blogspot.com

Pada mulanya pesawat ini digunakan sebagai pesawat pembom berat, beberapa diantaranya digunakan untuk bertempur bersama dengan Legiun Kondor Jerman dalam Perang Saudara Spanyol.

Sebagai pesawat penumpang, Ju-52 sebenarnya bisa mengangkut 17 penumpang dan mampu melakukan penerbangan dari Roma ke Berlin dengan waktu terbang sekitar 8 jam.

Pesawat Pembom Medium/Medium Bomber
Junkers Ju-52
militerbanget.blogspot.com

Sedangkan sebagai pesawat bomber, pesawat ini mempunyai kecepatan maksimum 165 mph atau sekitar 305 km/jam. Walaupun performanya tidak sehebat FW-200 Condor, namun pesawat ini banyak sekali digunakan oleh Angkatan Udara Jerman (luftwaffe) untuk berbagai keperluan pada saat Perang Dunia Ke II berkecamuk, mulai dari sebagai pesawat untuk menerjunkan pasukan payung, untuk pesawat logistik/cargo, pesawat pembom, ambulance, bahkan untuk pesawat angkut resmi beberapa perwira tinggi Nazi Jerman.

Pesawat Pembom Medium/Medium Bomber
Junkers Ju-52
militerbanget.blogspot.com

Pesawat ini pertama kali digunakan dalam battle of Crete (pertempuran di pulau kreta), pada mei 1941. Kemudian juga pada pertempuran Stalingrad. Karena kecepatannya yang lambat, dan persenjataan yang minim Ju-52 banyak ditembak jatuh oleh pasukan Rusia. 

Untuk berpartisipasi pada pertempuran di Norwegia, dan mediterania, Ju-52 dikembangkan atau dimodifikasi menjadi pesawat amphibi dengan dua pelampung besar sebagai sarana pendaratan di air. Ju-52 juga pernah dikembangkan menjadi pesawat penyapu ranjau dengan dilengkapi sebuah lingkaran degaussing besar di bawah airframenya.

Pesawat Pembom Medium/Medium Bomber
Junkers Ju-52
militerbanget.blogspot.com

Pesawat Ju-52 juga tercatat berpartisipasi dalam serangan di Belanda pada tanggal 10 Mei 1940, dimana pesawat ini dikerahkan dalam serangan udara besar-besaran pertama dengan pasukan terjun payung dalam sejarah selama Pertempuran Hague.

Pesawat Pembom Medium/Medium Bomber
Junkers Ju-52
militerbanget.blogspot.com

Tidak kurang dari 295 unit Ju 52 hilang dalam medan pertempuran itu dan di tempat-tempat lain di Belanda, karena berbagai sebab, antara lain akibat dari tingkat akurasi dan efektifnya pertahanan anti pesawat Belanda dan kesalahan Jerman dalam menggunakan lapangan udara. Pada tanggal 10 Mei saja, ada sekitar 278 unit pesawat Ju-52 yang jatuh atau dinonaktifkan karena mengalami kerusakan yang parah.

Setelah Perang Dunia II usai, pesawat Ju-52 masih banyak diproduksi dan digunakan sampai sekarang. Pengguna setianya adalah Prancis, Spanyol, dan Swiss. Digunakan dalam beberapa kegiatan terbang pariwisata ataupun penerbangan untuk penerjunan wisata.

(Baca juga artikel yang sangat menarik yang berjudul: Pesawat Patroli Pembom/Maritim Amfibi /Flying Boat Kawanishi H8K)

Pesawat Pembom Medium/Medium Bomber
Junkers Ju-52
militerbanget.blogspot.com

Terlepas dari kurang mengesankannya pesawat Junker Ju-52 ini, tetapi, pada masanya, pihak pengguna, yaitu Angkatan Bersenjata Jerman, mampu mengoptimalkan pesawat ini sampai pada batas tertinggi, dan pesawat ini juga sangat berperan dalam menunjang strategi perang kilat yang diusung oleh NAZI Jerman.

Pesawat Pembom Medium/Medium Bomber
Junkers Ju-52
militerbanget.blogspot.com

Spesifikasi Pesawat Pembom Medium / Medium Bomber - Junkers Ju-52 


Jenis: Bomber sedang, angkut pasukan, suplai (cargo/transport), radar

Dimensi 

Panjang: 18,9 m
Rentang sayap: 29,3 m
Tinggi: 4,50m

Berat Kosong: 9.200 kg
MTOW: 10.515 kg
Mesin:  3 x BMW 132 450 kW, 2 x 650 hp
Kecepatan jelajah maksimum: 305 km/jam
Radius Tempur: 1.290 km

Persenjataan  

3 x Senapan mesin MG17 kaliber 7,92mm

Kru: 4 orang (diluar gunner)

Demikianlah artikel tentang Pesawat Pembom Medium / Medium Bomber - Junkers Ju-52, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Baca juga berbagai artikel menarik tentang khasiat dan manfaat buah dan sayuran di laman portal receh

Baca juga berbagai artikel menarik tentang fotografi dan juga berbagai hal lain di laman trisoenoe

Baca juga ulasan sekilas dari berbagai artikel menarik tentang alutsista dan fotografi di laman pustaka senjata dan fotografi

Baca juga ulasan sekilas dari berbagai artikel menarik tentang alutsista di laman kilas copas

Artikel ini dialihbahasa, diadaptasi, dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

Sumber:

Wikipedia
Edisi Koleksi Majalah Angkasa
Berbagai sumber lain

Tag:
#Omicron, #Rusia, #Ukraina, #Invasi Rusia-Ukraina, #Perang-Rusia-Ukraina, #Pertempuran-Rusia-Ukraina, #Serbuan-Rusia-Ukraina

Jumat, 26 Januari 2018

Pesawat Pembom Berat / Heavy Bomber - Focke-Wulf Fw-200 "Condor"


Pesawat Pembom Berat (Heavy Bomber) - Focke Wulf Fw 200 "Condor"
Pesawat Pembom Berat
Heavy Bomber - Focke-Wulf Fw-200 "Condor"
militerbanget.blogspot.com

Kemayoran, Jakarta, Jum'at, 26 Januari 2018

Di jagat penerbangan tahun 1930-an, nama Focke-Wulf Fw-200 "Condor" sempat menjadi buah bibir khalayak. Pesawat berkonfigurasi empat mesin ini bukan sekadar alat transportasi biasa; pesawat ini adalah pembuktian ambisi Jerman. Pada tanggal 10 Agustus 1938, Condor berhasil mencetak sejarah dengan terbang non-stop dari Berlin ke New York selama 24 jam 56 menit. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk masanya.

Pesawat Pembom Berat (Heavy Bomber) - Focke Wulf Fw 200 "Condor"
Pesawat Pembom Berat
Heavy Bomber - Focke-Wulf Fw-200 "Condor"
militerbanget.blogspot.com

Lahir dari Tangan Dingin


Fw-200 pertama kali mengangkasa pada Juli 1937. Proyek ini dikembangkan oleh Bansemir, yang mengambil tongkat estafet dari sang maestro desain, Kurt Tank. Sebagai pesawat sipil, Condor adalah lambang kemewahan dan efisiensi, mampu membawa 25 penumpang dengan daya jelajah mencapai 3.000 km. Namun, pecahnya perang dunia mengubah nasib burung besi ini dari pengangkut penumpang menjadi mesin perang.

Pesawat Pembom Berat (Heavy Bomber) - Focke Wulf Fw 200 "Condor"
Pesawat Pembom Berat
Heavy Bomber - Focke-Wulf Fw-200 "Condor"
militerbanget.blogspot.com

Transformasi Menjadi "Si Buncit" yang Mematikan


Saat dialihfungsikan menjadi pesawat militer, Fw-200 dirancang sebagai pesawat angkut yang multifungsi. Untuk memenuhi kebutuhan taktis, badan pesawat diperbesar agar lebih leluasa, sayap dilengkapi dengan cantelan bom, dan bagian buritan dipasangi senapan mesin untuk pertahanan diri. Beberapa unit bahkan dilengkapi dengan radar.

Namun, modifikasi ini bukannya tanpa cela. Dimensinya yang membengkak membuat Condor terlihat "buncit" dan sering kali mengalami kendala saat mendarat. Sayangnya, masalah krusial ini seolah diabaikan oleh para petinggi militer Jerman saat itu.

Pesawat Pembom Berat (Heavy Bomber) - Focke Wulf Fw 200 "Condor"
Pesawat Pembom Berat
Heavy Bomber - Focke-Wulf Fw-200 "Condor"
militerbanget.blogspot.com

Fw-200 sendiri hadir dalam tiga varian utama:


  • Fw-200A: Varian murni sipil yang digunakan oleh Lufthansa, DDL Denmark, hingga Syndicato Condor di Brasil.

  • Fw-200B & C: Varian militer yang bertugas sebagai pembom, pengintai, hingga pengangkut VIP. Bahkan, Hitler tercatat menggunakan Fw-200 V-1 sebagai pesawat pribadinya.

Pesawat Pembom Berat (Heavy Bomber) - Focke Wulf Fw 200 "Condor"
Pesawat Pembom Berat
Heavy Bomber - Focke-Wulf Fw-200 "Condor"
militerbanget.blogspot.com

Dilema Strategis yang Terabaikan


Meskipun memiliki potensi sebagai pembom strategis yang handal, Condor tidak pernah benar-benar menjadi tulang punggung Luftwaffe. Petinggi militer Jerman saat itu terlalu terpaku pada doktrin Blitzkrieg dan taktik jarak pendek seperti Ju-87 Stuka atau Ju-88.

Pesawat Pembom Berat (Heavy Bomber) - Focke Wulf Fw 200 "Condor"
Pesawat Pembom Berat
Heavy Bomber - Focke-Wulf Fw-200 "Condor"
militerbanget.blogspot.com

Ironis memang. Jika Luftwaffe memiliki visi yang lebih luas untuk mengembangkan Condor sebagai pembom maritim jarak jauh dengan radar yang mumpuni sejak awal, jalannya "Pertempuran Atlantik" mungkin akan jauh berbeda. Condor, yang sebenarnya bisa menjadi senjata pamungkas untuk memutus rantai logistik Sekutu di Atlantik, justru dianggap sebagai "anak tiri" yang hanya menjadi pengisi celah di daftar intaris alutsista Jerman.

Kegagalan ini memberi kita pelajaran berharga: sehebat apa pun sebuah teknologi, ia akan selalu terbatas jika tidak didukung oleh visi strategis penggunanya. Fw-200 bukan hanya sekadar mesin perang; ia adalah monumen bagi potensi besar yang terbuang sia-sia akibat ego dan ketidaktahuan para pengambil kebijakan.

Pesawat Pembom Berat
Heavy Bomber - Focke-Wulf Fw-200 "Condor"
militerbanget.blogspot.com

Spesifikasi Pesawat Pembom Berat / Heavy Bomber - Focke-Wulf Fw-200 "Condor"


Jenis: Pesawat Pembom Berat / Heavy Bomber, transport
Kru: lima orang
Kapasitas: 30 personel bersenjata lengkap dalam konfigurasi transport

Dimensi dan Bobot Operasional

  • Panjang: 23,45 m (76 kaki 11 inci)
  • Rentang Sayap: 32,85 m (107 kaki 9 in)
  • Tinggi: 6,3 m (20 kaki 8 inci)
  • Luas area sayap: 119,85 m 2 (1.290,1 kaki persegi)
  • Berat kosong: 17.005 kg (37.490 lb)
  • Berat lepas landas maks: 22.714 kg (50.076 lb)

Dapur pacu dan propeller

  • Dapur pacu: Mesin piston radial berpendingin udara 4 × Bramo 323R-2 9 silinder satu baris
  • Baling -baling: baling-baling variabel 3 bilah

Performa

  • Kecepatan maksimum: 380 km/jam (240 mph, 210 kn) pada elevasi 4.800 m (15.700 kaki)
  • Kecepatan jelajah: 335 km/jam (208 mph, 181 kn) pada elevasi 4.000 m (13.000 kaki) (Max cruise)
  • Jarak jelajah maksimum: 3.560 km (2.210 mi, 1.920 nmi)
  • Daya tahan terbang: 14 jam
  • Elevasi operasional: 6.000 m (20.000 kaki)

Persenjataan

Senjata proteksi 
  • 1 × Senapan mesin kaliber 7,92mm (0,312 in) MG 15 senapan mesin di Drehkranz D-30 di turret punggung dengan 1.125 peluru
  • Senapan mesin MG 131 1 × 13 mm (0,512 in.) Di turret punggung belakang dengan 1.000 butir peluru
  • Meriam MG 151 1 × 20 mm (0,787 in) dalam posisi gondola ventral depan dengan 800 peluru
  • Senapan mesin MG 15 1 × 7,92 mm (0,312 in.) Dalam posisi gondola ventral belakang dengan 750 peluru
  • Senapan mesin MG 15 2 × 7,92 mm (0,312 in.) Dalam dudukan fleksibel yang ditembakkan secara lateral, satu di setiap sisi badan pesawat dengan 1.500 butir peluru

Bom: Hingga 1.000 kilogram (2.200 lb) bom internal atau hingga 5.400 kg (11.900 lb) secara eksternal pada empat rak underwing PVC 1006 

Demikianlah artikel tentang Pesawat Pembom Berat / Heavy Bomber - Focke-Wulf Fw-200 "Condor", semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Artikel dialih bahasa dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

Sumber:
Wikipedia

Kendaraan Lapis Baja / Panzer - Schwerer Panzerspahwagen SdKfz 231 (8-rad)


Kendaraan Lapis Baja / Panzer - Schwerer Panzerspahwagen SdKfz 231 (8-rad) 1
Kendaraan Lapis Baja - SdKfz 231 (8-Rad)
militerbanget.blogspot.com

Ciledug, Tangerang, Banten, Senin, 25 Januari 2018

Setelah sekian lama…”mati suri”… alias kehilangan gairah untuk menulis ataupun mengisi blog, akibat dari cuaca es krim… maksudnya cuaca ekstrim, kini, saya mencoba untuk membangun kembali semangat untuk tulas-tulis dan isa-isi blog… demi membangun lagi “gairah yang telah lama pudar”!

Kendaraan Lapis Baja / Panzer - Schwerer Panzerspahwagen SdKfz 231 (8-rad) 3
Kendaraan Lapis Baja - SdKfz 231 (8-Rad)
militerbanget.blogspot.com

Dan inilah postingan awal saya di tahun ini, dan postingan kali ini, adalah tentang kendaraan serba guna yang merupakan racikan dari Nazi Jerman, dan digunakan pada saat Perang Dunia II. Inilah kisahnya:

Kendaraan Lapis Baja / Panzer - Schwerer Panzerspahwagen SdKfz 231 (6-rad) 1
Kendaraan Lapis Baja - SdKfz 231 (8-Rad)
militerbanget.blogspot.com

Lahirnya Sang Pelopor Pengintai: Asal-Usul SdKfz 231


Awal mula dirancangnya kendaraan ini adalah; keinginan pasukan Jerman untuk mempunyai kendaraan reconnaissance (pengintai) yang mampu bergerak cepat dan aman, namun juga bisa mendobrak dan membantu manuver pasukan infantri dengan efektif. Kendaraan tempur ini diharapkan menjadi ujung tombak atau alutsista pelopor dari pasukan Panzer.

Maka, pada awal tahun 1930-an, diciptakan sebuah kendaraan lapis baja dengan basis truk konfigurasi 6x4. Kendaraan ini dinamakan Schwerer Panzerspahwagen (SdKfz) tetap menggunakan 6 roda namun seluruh body kendaraan ini ditutup dengan baja dan diberi tambahan turret yang dilengkapi dengan meriam kaliber 20mm serta senapan mesin kaliber 7,92mm sebagai senjata pendamping atau sekunder.


Kendaraan Lapis Baja / Panzer - Schwerer Panzerspahwagen SdKfz 231 (8-rad) 7
Kendaraan Lapis Baja - SdKfz 231 (8-Rad)
militerbanget.blogspot.com

Evolusi 8-Rad: Keunggulan Manuver di Berbagai Medan


Pada tahun 1937, konfigurasinya ditingkatkan menjadi 8 roda. Dimensinya otomatis menjadi lebih panjang, efeknya ruang tengah kendaraan menjadi lebih lapang. Tambahan ruang ini dapat digunakan untuk menyimpan amunisi, bahan bakar, serta sarana pendukung lain. Namun demikian, perubahan konfigurasi roda tersebut tidak mengurangi performa kendaraan, kendaraan ini tetap memiliki manuver yang lincah. Segera varian-varian ini dikirim ke Polandia, Prancis, Rusia, dan Afrika Utara (front Afrika dibawah komando Korps Afrika atau Korps Jerman Afrika (bahasa Jerman: Deutsches Afrika korps, DAK).

Kendaraan Lapis Baja / Panzer - Schwerer Panzerspahwagen SdKfz 231 (8-rad) 10
Kendaraan Lapis Baja - SdKfz 231 (8-Rad)
militerbanget.blogspot.com

Akan tetapi, cuaca yang ekstrem di Rusia (salju dan lumpur) dan di Afrika Utara (padang pasir) terbukti bisa menghambat pergerakan panzer ini. Kendaraan ini memang memiliki penggerak utama roda, sudah barang tentu, kemampuan roda dalam mengakomodir kondisi medan seperti itu, sangatlah terbatas.


Namun demikian, Erwin Rommel memuji seri Panzerspahwagen sebagai sarana terbaik untuk model perang cepat atau pendobrakan pertahanan lawan. Dan pada kondisi yang ideal, kendaraan ini mampu memberikan kontribusi yang luar biasa pada manuver pasukan secara keseluruhan.

Kendaraan Lapis Baja / Panzer - Schwerer Panzerspahwagen SdKfz 231 (8-rad) 12
Kendaraan Lapis Baja - SdKfz 231 (8-Rad)
militerbanget.blogspot.com

Spesifikasi Kendaraan Lapis Baja / Panzer - Schwerer Panzerspahwagen SdKfz 231 (8-rad)


  • Asal negara: Jerman 
  • Awak: 4 Kru


Persenjataan  

  • Senjata utama: 1 x meriam kaliber 20mm Kwk 40 L/48 
  • Senjata sekunder: 1 x Senapan mesin kaliber 7,92mm


Dimensi dan berat

  • Panjang: 5,85 m (berikut laras meriam) 
  • Lebar: 2,20 m 
  • Tinggi: 2,34 m 
  • Berat bersih: 8,3 ton


Mesin: 

  • Bussing-NAG L8V-Gs water cooled petrol engine developing 112 kw/150 hp


Performa  

  • Kecepatan maksimum: 85 km/jam.
  • Jarak tempuh maksimum: 270 km.
  • Genangan air maksimum: 1 m
  • Tanjakan maksimum: 30 derajat (naik) 
  • Halangan parit maksimal: 1,25 m

Kendaraan Lapis Baja / Panzer - Schwerer Panzerspahwagen SdKfz 231 (8-rad) 16
Kendaraan Lapis Baja - SdKfz 231 (8-Rad)
militerbanget.blogspot.com

Analisis Historis: Warisan Taktis SdKfz 231


Kehadiran SdKfz 231 (8-rad) menandai evolusi penting dalam doktrin pengintaian Jerman. Sebagai pelopor taktik Blitzkrieg, kendaraan ini membuktikan bahwa mobilitas tinggi adalah kunci dalam mendominasi medan tempur terbuka. Meskipun performanya di medan ekstrem Rusia dan Afrika Utara memiliki keterbatasan teknis, efektivitasnya dalam mendukung manuver infantri tidak terbantahkan. Kemampuan kendaraan ini mengombinasikan perlindungan baja dengan kecepatan lincah menjadi inspirasi bagi pengembangan kendaraan tempur roda ban modern. Mempelajari sejarah SdKfz 231 memberikan kita wawasan mendalam tentang bagaimana adaptasi teknologi, di tengah tantangan lingkungan yang brutal, sangat menentukan arah serta hasil dari sebuah pertempuran besar dalam Perang Dunia II.

Demikianlah artikel tentang Kendaraan Lapis Baja / Panzer - Schwerer Panzerspahwagen SdKfz 231 (8-rad), semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Artikel dialih bahasa dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

Sumber: 
1. Mesin Perang Nazi Jerman-Edisi Koleksi Angkasa
2. ENSIKLOPEDIA DUNIA “TANK” – GEORGE  FORTY
Edisi terbitan Lorenz Book, dicetak oleh Anness Publihing Ltd.
www.lorenzbook.com
www.annesspublishing.com